PENDIDIKAN TEOLOGI UNGGUL: MUNGKINKAH ITU?

Dr. B. S. Sidjabat

Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, Bandung

 

Abstrak

Perguruan tinggi teologi di indonesia harus terus brkembang menjadi lembaga pendidikan unggul guna mencetak teolog-teolog handal. Makalah ini akana menjelaskan beberapa pemikiran tentang bagaimana menbangun sebuah perguruan tinggi teologi yang unggul berdasarkan sebelas kriteria yang dibuat oleh International Council Evangelical Theological Education (ICETE), pandangan steve hardi tentang elemen-elemen sekolah tinggi teologi, dan konsep dari C.S. Calian.

Pandangan-pandang is berkesesuaian dengan kriteria pendidikan unggul yang

dinyatakan dalam Standar Pendidikan Nasional (SNP).

 

Kata-kata kunci: pendidikan tinggi unggul, perguruan tinggi teologi, injili, standar pendidikan nasional, tenaga pendidik

 

Abstract

Theological seminaries in Indonesia should develop continually to become excellent educational institutions in order to produce competent theologians. This paper will describe some thoughts of how to establish an excellent seminary based on eleven criteria formulated by International Council Evangelical Theological Education (ICETE), Steve Hardi’s opinion on important elements of seminary and C.S. Calian’s concepts. These views are congenial with the criterion of excellent education stated in Standar Pendidikan Nasional (SNP: National Education Standard).

 

Keywords: excellent hig her education, theological seminary, evangelical, national education standard, faculty member

 

Apa Maksudnya?

Pertanyaan utama yang kerap muncul di pikiran saya ialah, “Apakah mungkin mewujudkan pendidikan teologi unggul di tengah persaingan perguruan tinggi teologi dewasa ini?” Aritonang melihat lebih dari 300 institusi perguruan tinggi teologi di Indonesia, dan mutunya patut terus dibenahi supaya menjadi lembaga yang mencetak teolog handal, tertib administrasi, dapat diakui kehadirannya oleh pemerintah, dan peduli dengan teologi kontekstual (2014, 89-100). Apa yang dikemukakan Aritonang itu benar, yaitu bahwa perguruan tinggi teologi jika hendak membawa dampak positif dalam konteksnya harus terus berbenah diri. Terkait dengan itu, saya beranikan diri membahas tema di atas mengingat Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus merumuskan visinya pada tahun 2010 silam, berbunyi, “Menjadi perguruan tinggi teologi Injili yang unggul dalam menghasilkan abdi Allah yang setia, cendikia, dan berhati mulia dalam mengemban Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus.”

            Untuk menjawab pertanyaan di atas, pertama saya jelaskan dahulu apa yang dimaksud dengan istilah unggul. Dalam bahasa Inggris, unggul disebut to excel berarti melampaui atau melewati yang lain (to go beyond or above; outdo; surpass another or others). Kata sifat dari unggul itu adalah excellence mengandung makna “keadaan atau kualitas yang tengah melampaui suatu situasi atau keadaan.” Dalam istilah Latin Excellere berarti naik, bangkit (rise). Kata unggul selain mengindikasikan keadaan juga menyatakan proses: perubahan dari satu situasi kepada situasi lainnya yang tentu jauh lebih baik. Jika situasi itu sudah lebih baik (better) maka diusahakan agar menjadi terbaik (the best). Selanjutnya keadaan itu dipelihara secara berkesinambungan agar bertahan (last). Perusahaan yang dikatakan unggul berarti terus berubah dari better to become the best serta from the best to last (lih. Collins dan Porras, 1994).

            Dalam pemahaman itu pendidikan teologi unggul berarti pendidikan yang melampaui atau melebihi pendidikan yang sudah ada dan yang biasa dilakukan. Kalau sebuah sekolah tinggi teologi dikatakan unggul berarti ia beraktivitas, berkarya, dan berproduksi melampaui perguruan tinggi teologi pada umumnya. Perguruan tinggi teologi itu menjadi terdepan. Tetapi, ia terdepan atau tepatnya terandalkan dalam hal apa? Keunggulan pendidikan teologi itu dalam aspek pemikiran teologinyakah? Unggul dalam spiritualitas dan karakterkah? Terdepan dalam keterampilan pelayanankah, misalnya: berkhotbah, mengajar, memberitakan Injil dan pertumbuhan gerejakah? Yang mana tepatnya?

            Jika kita bicara tentang pendidikan maka sejumlah komponen di dalamnya perlu kita pahami. Para ahli pendidikan mengemukakan sejumlah komponen pendidikan, termasuk: tujuan, guru, murid, kurikulum, pembelajaran, sarana dan prasarana, administrasi dan manajemen, serta evaluasi (penilaian) (lih. Mudyahardjo 2001, 40-90). Dengan begitu kalau kita hendak mengembangkan kualitas sebuah sekolah atau perguruan tinggi, maka semua aspek itu harus mendapat perhatian seimbang dan sistematik. Artinya mengelola sebuah lembaga pendidikan bukanlah perkara sederhana jika hendak dipandang bertanggung jawab oleh peserta didik, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. 

            Kembali kepada tema  diatas, ada banyak pertanyaan yang patut kita ajukan.

 

 

 

 

Memahami Beberapa Pemikiran

Izinkan saya mengemukakan beberapa pemikiran mengapa dan bagimana mewujudkan keunggulan pendidikan teologi. Pertama Pendidikan teologi unggul mengandung arti bersedia melakukan pembaruan ( renewal) . Pertanyaaannya adalah: Dalam aspek apa saja pembaruan terjadi? Apa Strategi untuk pembaharuan itu?Pada tahun 1983 Badan International Council of Evangelical Theological Education (ICETTE) telah mengemukakan dua belas langkah untuk membantu pendidikan teologi injili memajukan kualitasnya . Hingga sekarang semua nilai itu masih terus digemakan oleh perguruan tinggi teologi inkili diberbagai belahan dunia . Secara ringkas ICETE menegemukakan bahwa untuk mewujudkan proses dan produk terbaik dan berkesinambungan,pendidikan teolog haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut:

  1. Kontekstual (Cotextualization) . Dalam arti menjawab kebutuhan konteks kehidupan dan pelayanan.Peguruan tinggi teologi yang tidak memahami konteks kepercayaan dan agama,sosial dan budaya ,serta situasi eklesiologi di linggkungannya ,akan meghasilkan lulusan yag merasa asing di tempat pelayannya. Pendidikan teologi yang meganut prinsip kontekstual ,berarti memikirkan strategi kreatif untuk mendaratkan iman ke dalam kehidupan nyata.
  2. Berorientasi gereja(jemaat) ( Church orientaion ).Pendidikan teologi sepatutnya membekali peserta didik untuk melayani gereja disamping menjadi teolog . Teologi yang diajarkan para dosen sepatutnya mampu menjadikan peserta didik menjadi transformator warga jemaat karena memahami Alkitab dan memiliki persekutuan.
  3. Menyusun perecanaan strategis ( renstra ) (strategic planning ) yang terukur sebagai pedoman kerja.Penyusunan renstra membuat komunitas doskaren dan tenaga kependidika bersatu hati,berfikir, dan berserah diri kepada Tuhan. Rencana – rencana yang terwujud dalam suatu kurun waktu dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pada waktu selanjutnya. Renstran yang disusun tentunya harus dapat diterapkan dan fleksibel.
  4. Berakar secara teologis ( theological grounding ) . Walaupun kurikulum perguruan tinggi teologi memuat ilmu-ilmu sosial dan humaniora,bahkan sains,namun semua itu patut dipelajari dalam perspektif ajakaran Alkitab.Studi dan penelitian teologi di perguruan tinggi dapat dan patutu dilakukan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner. Dengan demikian teologi bukan sebuah menara gading yang tidak punya hubungan dengan pengetahuan lain.
  5. Secara berkesinambungan menilai kemajuannya (continous assessment), dengan melibatkan bantuan lembaga penilai(Akreditasi ) yang tepat . Dalam perguruan tinggi teologi,sepatutnya digiatkan kinerja lembaga atau unit penjaminan mutu internal (UPMI ) yang dapat melakukan evaluasi kurikulum dan pembelajaran serta aktivitas ekstra kulikuler.Masukan unti ini berguna untuk peningkatan mutu lembaga secara keseluruhan. Jika diresponi secara positif , kritis,kreatif dan kontruksif,Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi( BAN PT) berguna bantuannya bagi kemajuan pelayanan perguruan teoligi
  6. Membangun Kehidupan komunitas civitas akademika (community life) sesuai dengan nilai-nilai injil. Belajar mengenal Tuhan dan Firman-Nya tidak hanya terjadi di kelas atau di perpustakaan tetapi juga berlangsung dalam interaksi antar pribadi di kantor atau rumah pendidik, d ruang makan, dan di asrama mahasiswa . Nilai-nilai kasih ,kebenaran,kejujuran ,kerendahan hati , da tanggungjawab yang di teladani Kristus dipelajari peserta didik dalam kehidupan bersama
  7. Mengembangkan itergrasi( integrated life ) . Sebagaimana disinggung di atas pengetahuan yang dipelajari peserta didik bukan hanya Alkitab dan teologi tetai juga kebudayaan,kemasyarakatan,kesehatan,politik, dan yang terkait dengannya ,peguruan tinggi teologi menolong peserta didik beriman,berahlak,berilimu dan keterampilan
  8. Membentuk sikap kehambaan ( servant moulding) Karena siswa kelak meayani gereja dan masyarakat ,makan para lulusan perlu dimotivasi untuk memahami dan meneladani Tuhan Yesus yang rela menjadi hamba, Ajara dan teladan Tuhan mengenai kerendahaan hati sebagaimana diungkapkan kita injil patut dipahami oleh komunitas pengajar dan pembelajar
  9. Mengembangkan pembelajaran bervariasi ( instructio variety ) Artinya pembelajaran tidak ahanya melalui aktivitas kuliah kelas dan belajar dan / atau masyarakat . Perguruan tinggi teologi patut membuka diri kepada keseluruhan model pembelajaran yang membawa pembaruan membuka ruang bagi proses pembelajaran kognitif,pembelajaran sosial mpembelajaran pembentukan perilaku dan keterampilan,serta pembelajaran untuk pembangunan pribadi.
  10. Membangun pemikiran kristen(christian mind) perguruan tinggi injili sepatutunya meneladai Tuhan Yesus yang tinggi ahlak dan moral,tetapi juga maha cerdas. Cara berpikir kritis,kreatif, dan inovatif, patut dipelajari oleh peserta didik. Dengan produsen pemikiran kristen menegenai politik,ekonomi,tradisi,kebudayaan ,seks dan pernikahan, atau yang sejenisnya
  11. Memperlengkapi untuk pertumbuhan ( Equipping for grrowth) Perguruan tinggi teologi injili memberi perhatian dan moral peningkatan pertumbuhan iman ,spiritualtas dan moral pengajar dan pembelajar.Penilaian keberhasilan belajar peserta didik patut mempertimbangkan perubahan yang dialami mereka dan bukan hanya pada buah pelayanan yang di demonstrasikan.
  12. Mengembangkan kerjasama (cooperation) dengan lembaga pendidikan teologi lain. Seperti cita-cita kristus agar para pengikutnya bekerja sama dalam pemberitaan injil kerajaan Sorga, demikian pula perguruan tinggi teologi patut meningkatkan kerja sama dengan gereja dan lembaga pendidikan lainnya tanpa kehilangan keunggulan dan keunikannya . Beragam bentuk kerjasama yang dikembangkan ,termasuk dalam pembentukan keteramilan dan pengalaman pelayanan peserta didik yang di fasilitasi oleh gereja lokal.

 

Kedua, Dr.Hardy (2007) mengemukakan bahwa agar pendidikan teologi mencapai keunggulan maka ada sebelas komponen yang patut terus diperhatikan dan dikembangkan. Ditegaskan bajwa keunggulan itu tidak terletak hanya pada satu atau dua aspek. Untuk setiap komponen itu beliau memberikan masukan berharga prinsip praktis. 

  1. Unggul dalam kepemimpinan (excellence in Leaders)
  2. Unggul dalam perencanaan strateginya (excellence in strategic planning )
  3. Unggul dala tatapmong (excellence in governance)
  4. Unggul dalam admisitrasinya (excellence in administration)
  5. Unggul dalam kurikulum (excellence incurriculum)
  6. Unggul dalam kualitas guru (excellence in teachers)
  7. Unggul dalam sara dan prasarana (excellence in facilities)
  8. Unggul dalam perpustakaan (excellence in libraries)
  9. Unggul dalam penggalanga dana (excellence in funndrasing)
  10. Unggul dalam pendidikan bekesinambungan (excellence in extending training)
  11. Unggul dalam evaluasi dan pembaruan (excellence in evaluation and renewal )

 

Menurut Dr.Hardy,kata unggul merupakan kualitas yang banyak disinggung dalam Alkitab. Hardy banyak melihatnya dari surat-surat kiriman Rasul Paulus (Flp 4:8; Tit.3:8; kor 12:31;2 kor.8:7)” jadi ada alasan untuk mengupayakan sebab Tuhan memberi yang terbaik dan mengharapkan kita melakukan yang terbaik pula. Ia mengajukan sebuah pertanyaan penting ,yakni : “ siapa yang menilai bahwa kita mengupayakan perkara-perkara unggul? Menurut Hardy yang menilai itu pertama-tama Allah sebab itu kita harus terbuka kepada penilaiannya. Tuhan yang mendirikan lembaga kita,maka Dia dan kehendak-Nya yang harus menjadi ukuran.Kedua,masyarakat yang menggunakan produk pendidikan teologi kita (stakeholders). Ketiga, pemerintah atau badan yang diakui oleh pemerintah. Keempat,lembaga-lembaga yang berperan sebagai rekan (peers ) . kelima, pendidik dan tenaga kependidikan teologi itu sendiri (2007,25-28)

 Untuk menjadi pendidian teologi unggul,sebuah seminari (STT) patut memikirkan kurikulumnya. Dalam hal ini Dr. Calian mengusulkan agar kita berpikir ke masa depanbukan saja masa lalu (demi tradisi ) sebab mahasiswa harus mampu menjawab tantangan masa depan dengan  apa yang dipelajari (45-53). Konsep kurikulum harus diubah, yaitu tidak terbatas pada apa yang dipelajari di kelas dan diperpustakaan. Pendidikan teologi harus menjadikan dunia sebagai ruang belajarnya ( making the world your classroom). Pengalaman di lapangan dan penelitian dalam konteks masyarkat dan gereja perlu mewarnai kurikulum (54-60).

Permasalahannya multikulturalisme dan globaisasi  harus diresponi oleh kurikulum pendidikan teologi (61-67). Bahkan Dr Calian mengusulkan agar pendidikan teologi meluaskan horizon pelayanannya,jangan hanya mengundang peserta didik di kampus tetapi juga menjadikan gereja dan komunitas kristen sebagai perserta didik. Artinya , pendidikan teologi tidak hanya mengajar peserta didik demi gelar akademis,tetapi juga untuk pembaruan spiritualitas dan memperlengkap mereka untuk pelayanan jemaat. Beliau memberi contoh dua perguruan tinggi di Vancouver,Canada,Yaitu Regent College dan Vancouver School Theology(68-78)

            Bila pendidikan teologi hendak menghasilkan yang terbaik , ia harus memeri respon terahadap masalah peserta didik yang datang belajar.pertanyaan ini harus di jawab yaitu: Bagaimana memperoleh peserta didik yang memang siap untuk memberi diri ke dalam pelayanan ? ( 81-89) Bagaiman membantu peserta didik supaya selain pengetahuan kognitif teologinya bertumbuh, tetapi imannya kepada kristus Tuhan juga terbangun? Sebab kerap terjadi bahwa setelah memperlajari teologi malah iman mahasiswa kepada Tuhan Yesus melemah ( 90-98) . Yang menarik sekali, profesor teologi Calvinis ini menegaskan bahwa dalam mendidik para mahasiswa ,peranan doa dan kapel,ibadah ,dan persekutuan harus menjadi perhatian serius (99-104).

            Secara khusus untuk konteks perguruan tinggi ,beragam standar itu telah disinggung oleh kerangka kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) No.8 Tahun 2012; dan ditegaskan kembali oleh standar Nasional perguruan Tinggi No.49 Tahun 2014.

 

Harapan Saya Bagi STA Tiranus

Sebagaimana dikemukakan di atas, sejak tahun 2010 Sekolah tinggi Alkitab Tiranus merumuskan Visi: “Menjadi Perguruan tinggi teologi Injili yang ungguk dalam menghasilkan Abdi Allah yang setia,cendikia dan berhati mulia dalam mengemban Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus”. Untuk itu ICETE perlu dipahami oleh dosen dan tenaga keoendidikan. Perbincanga tentang komponen ini patut dilakukan secara berkesinambungan untuk membangun pengertian yang lebih baik dan komitmen mempraktikkan . Hal itu dapat dilakukan melalui rapat-rapat dan kegiatan khusus seperti retreat tahunan.

 

      Saya yakin bahwa para dosen dan tenaga pendidikan yang benar-benar memiliki panggilan untuk melayani Tuhan bersama dan melalui Tiranus , akan membuka ruang hati merenungkan arti  dan bekerdari setiap komponen yang diusulkan . Tanpa kejujuran,kecerdasan,ketangguhan  dan kepedulian,keunggulan kerja atau produk kerja akan sulit realisasi .

 

       Perlu juga dipahami bahwa keunggulan pendidikan teologi di Tiranus terletak pada komitmennya sejak semula yaitu hadir dan bekerja memperlengkapi peserta didik agar mengenal Tuhan Yesus Kristus,dirubah oleh-Nya,kemudian belajar memberitakan ajaran dan karya-Nya,khususnya kasih karuna yang dinyatakan melalui penyalban-Nya di Golgota ( 1 Kor.15:3,4) . Kalau amanat Agung Kristus merupakan nilai utama bagi Tiranus,bagaimana caranya ia terdepann dalam memperlengkapi peserta didik yang dikirimkan oleh Tuhan? Tiranus melayani peserta didik lenih dari biasa-biasa ,jika para dosen dan tenaga kependidikan menjadikann keunggulan sebagai jiwa dan gaya hidup sebagimana diusulkan oleh Ted Engstrom di atas. Oleh pertolongan Allah Tritunggal yang mahamulia,hal itu secara perlahan dapat terwujud.

       Mahasiswa yang diutus Tuhan untuk  belajar patut peduli dengan visi perguruan tingginya . Mahasiswa harus belajar bukan sebagai objek tetapi juga sebagai subjek dalam pembelajaran. Para alumni patutu mengemukakan saran dan usulan konstruktid bagi dosen dan teaga kependidikan supaya mereka melakukan tugas dengan jiwa lebih daripada yang biasa. Walaupun ada hal-hal yang kurang berkenan di hati mereka sebagai hasil belajar di kampusnya, mengingat para pembina bukanlah mahluk sempurna, namun perkara-perkara positif yang dialami patut diinformasikan kepada mereka demi pelayanan yang lebih baik. Jika hal demikian terjadi makan para alumni telah menerapkan akhlak kepedulian sebagaimana diajarkan oleh sang pemberi Amanat Agung. Para sponsor dan mitra Tiranus juga amat besar artinya untuk mendoakan selain memberikan dana bagi pekerjaan Tuhan di dalamnya.                                                    i

 

Kepustakaan

Aritonang,Jan S.2014. “Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia:

Semakin Maju dan Mundur?” Dalam Setia di jalan ketulusan: Buku kenangan 80 Tahun     Pdt.Em.Prof.De.Sularso Sopater,diedit oleh Daniel Stefanus,89-100,Jakarta: Waskita Publishing

Collins,James C., dan Jerry I.Porras.1994.Built to last : uccessful

Habits of Visionary Companies.New York:Haper Business

 

Mudyhardjo,Redja 2001.Pengantar pendidikan:sebuah studi Awal

Tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada umumnya dan pendidikan Indonesia.Jakarta: PT.Radja Grafindo Persada

Feris ,Robert .W 1990. Renewal in Theological education : Strategies  For Change. Wheaton: Billy Graham

________,1985 “The Future of Theological Education” Dalam The Cyprus: TEE come of Age,diedit oleh Robert L.Youngblood,41-64

Exeter : The Paternoster Press

Hardi,Steven A.2007.Excellence in Theological Education.Colombo;

Lanka Bible College & Seminary

Callian,Carnagie Samuel .2002. The Ideal Seminary: Pursuing

Excellence In Theologival Education.Loutisville: Westminster John Knox Press

Harkness ,Allan G (ed). 2010. Tending the seedbeds: Educational

Perpectives on Theological Education in Asia.Manila: Asia

Theological Association

Artikel 2

"Tantangan Bagi Peserta Didik dalam Lembaga Pendidikan Teologi pada Era Informasi"

Oleh: B.S. Sidjabat, Ed. D.


Pengantar

Kita ketahui bersama betapa deras tantangan arus informasi dewasa ini menerpa bahkan mempengaruhi kehidupan kita, berkat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Kehidupan warga jemaat yang kita layani pun ikut mengalami perubahan karena pengaruh informasi yang mereka terima baik melalui media literatur maupun melalui media elektronik. Media literatur dalam hal ini mencakup koran, majalah, dan buku-buku. Media elektronik meliputi televisi, video (CD), komputer (dengan berbagai jenis games di dalamnya) dan dari internet atau dunia cyber. Begitu mudah orang mengetahui serta tentu akan menerima nilai dari apa yang terjadi di belahan dunia lain dengan perangkat teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang relatif dapat dimiliki secara mudah.

Perkembangan arus informasi dewasa ini harus kita tanggapi secara positif, kritis, dan kreatif. Bagaimanapun, sebagai peserta didik dalam lingkungan pendidikan teologi, kita tidak mungkin menutup diri. Jika kita menutup diri atau menganggap tabu berhubungan dengan perangkat teknologi komunikasi, kita akan ketinggalan zaman. Sebaliknya kita haruslah memangdang perubahan budaya dari segi positif maupun dari sudut pandang negatif. Kita pun harus mampu memberikan jawaban bahkan alternatif sikap hidup. Kita terima perubahan. Kita hadapi dengan sikap terbuka namun disertai kemampuan menyaring dan memilih mana yang baik dan mana yang semestinya tidak harus kita terima. “Ujilah segala sesuatu dan berpeganglah kepada yang baik”, demikian Firman Tuhan (I Tesalonika 5:21). Juga dikemukakan: “hiduplah sebagai orang arif, bukan seperti orang bebal, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini jahat” (Efesus 5:15,16).

Perkembangan arus informasi dewasa ini harus kita tanggapi secara positif, kritis, dan kreatif. Teologi tidak mungkin menutup diri


Sisi Positif Arus Informasi.

Sebagaimana disinggung di atas, tidak bisa kita pungkiri bahwa tentu saja ada sisi positif dari kemajuan teknologi informasi sekarang ini. Pertama, pengetahuan dapat bertambah seperti dinubuatkan oleh Daniel, bahwa pada akhir zaman pengatahunan manusia terus bertambah dan berkembang (12:4). Pengetahuan kita di berbagai bidang, seperti: pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan politik, juga pengetahuan ekonomi dan moneter, pengetahuan psikologi bahkan pengetahuan keagamaan atau spiritualitas dapat berkembang, apabila kita bersedia belajar dari media yang disebut tadi. Kini di era cyber pengetahuan sudah menjadi milik semjua orang yang mau mencermatinya. Tidak perlu “disembunyikan” lagi melainkan telah menjadi seperti “hikmat yang berseru-seru atau disebarkan di pintu gerbang” seperti dikemukakan penulis Amsal (1:20,21). Motto dan gaya hidup “belajar di sepangjang hayat” (lifelong learning) semakin menjadi jelas. Yang dibutuhkan dari kita dewasa ini ialah kemauan belajar, keterampilan menerima dan mengola serta memanfaatkan pengetahuan itu. Agar tidak ketinggalan, teknik membaca cepat (reading skill) dibutuhkan dan patut kita kuasai. Pengetahuan bahasa asing (Inggris, Jerman, Jepang, dll) amat diperlukan. Tentu saja bahasa-bahasa Alkitab seperti bahasa Ibrani dan Yunani harus kita pelajari dengan baik. Teknik memahami atau berpikir secara benar (nalar) yang mencakup variasi berpikir secara vertikal dan lateral serta sistemik, juga dibutuhkan. Teknik mendengar dan mencermati isi yang didengar pun diperlukan sekali. Jadi sebenarnya kemajuan informasi dewasa ini dapat memacu kita untuk lebih aktif mengambangkan diri.

Satu literatur yang menarik dewasa ini berkaitan dengan keterampilan belajar ialah karangan Bibbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning terjemahan dan terbitan Mizan (1999). Literatur lainnya ialah karya Gordon Dryden dan Jeannete Vos, Revolusi belajar (Mizan, 2001). Bahan-bahan bacaan itu menyajikan teknik-teknik praktis cara belajar efektif, termasuk metode membaca cepat, mengingat dengan mudah dan berpikir kreatif dalam memanfaatkan informasi dalam rangka membangun pengetahuan serta meningkatkan kualitas kepribadian. Karangan itu muncul dalam rangka menjawab tantangan global berbagai kemajuan pada era informasi yang tidak terhindarkan ini. Mahasiswa di pendidikan teologi ditantang oleh zaman ini untuk tidak lagi asal menerima kuliah-kuliah gurunya lalu menghafalkannya. Mereka harus mengembangkan diri menjadi pencetus gagasan teologis dengan banyak membaca, mengamati apa yang terjadi dalam kehidupan jemaat dan kehidupan pada umumnya, berefleksi dan berdiskusi dengan teman-teman atau dengan para gurunya.

Kedua, informasi tentu saja menjadikan wawasan dan sikap mental orang juga berubah. Jika dahulu orang hanya terbiasa atau “terprogram” untuk mendengar atau dua jenis informasi saja, kini mereka harus mengembangkan diri. Sikap mereka harus terbuka. Informasi yang memasuki rumah dan kamar mereka tidak bisa mereka bendung. Percuma menggerutu. Sebaliknya, media membiasakan orang untuk terbuka mendengar dan melihat perkara-perkara yang bahkan bertentangan dengan keyakinannya dahulu. Jadi, terjadilah apa yang saya sebut keharusan pendewasaan melalui derasnya arus informasi dewasa ini. Guna menjawab tantangan itu, orang harus pintar menentuka pilihan, tentang apa yang mesti didengarnya. Semua sajian media kelihatan dan kedengaran bagus dan bila kita memberikan waktu untuk itu bisa pula menghambat pengerjaan prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut hemat saya, pengajaran dan latihan praktis tentang cara membuat keputusan secara benar dan tepat, amat dibutuhkan oleh mahasiswa pendidikan teologi.

Saya teringat kepada pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus yang dikitari oleh tantangan kemajemukan agama dan keagamaan serta kebudayaan. Dia menasihati warga jemaat agar rela mendapatkan pembekalan dari para pengerja di jemaat guna mendorong mereka bertumbuh dalam pengetahuan spiritual dan moral atau etika. Paulus mendesak agar jemaat tidak lagi tetap sebagai anak-anak yang labil, mudah terombang-ambing, melainkan bertambah dewasa. Mereka harus terus belajar mengenal siapa Yesus Kristus, yang melalui atau di dalam Dia Allah memberikan segala berkat sorgawi dan jasmani. Mereka pun harus membangun diri secara bersama-sama di dalam kasih Tuhan (bd Efesus 4:11-16). Kalau mau menjadi saksi Tuhan yang memberi dampak bagi sekeliling, mahasiswa pendidikan teologi harus rela diajar dan belajar dengan totalitas komitmen mereka. Jangan menjalani panggilan dengan setengah hati. Orang yang mendua hati, tidak meraih keberhasilan dengan gemilang.

Mahasiswa teologi ditantang oleh zaman ini untuk tidak lagi asal menghafal kuliah gurunya. Mereka harus mengembangkan diri menjadi pencetus gagasan teologis dengan banyak membaca dan mengamati kehidupan jemaat

Sisi Negatif Arus Informasi

Sisi negatif dari derasnya araus informasi tentu pula banyak. Kita hanya menyinggung beberapa hal dalam kesempatan ini. Pertama, kebebasan media untuk mengkomunikasikan ide dan keyakinannya membuat orang berani menayangkan informasi yang berisikan nilai-nilai hidup kekerasan, konsumerisme, hedonisme, dan relativisme. Melalui games (utamanya melalui play station) anak-anak umumnya cenderung menerima pelajaran kekerasan (violence). Melalui film dan video barat umumnya, anak-anak dan remaja menerima pelajaran tentang kebebasan seks dan kehidupan hura-hura (konsumerisme). Mereka memandang bahwa orang berpacaran lalu sudah tinggal serumah tanpa pernikahan yang sah, boleh-boleh saja. Pergaulan pemuda-pemudi selalu diwarnai dengan minuman keras. Musik-musik keras (heavy metal) mengguncang emosi disertai dengan lirik yang menyindir pelurunya hidup jujur dan teratur serta menghargai otoritas. Ibu-ibu rumah tangga pun tak tertinggalan, banyak belajar tentang perselingkuhan sebagai solusi atas maslah dalam rumah tangga melalui film-film telenovela dan sejenisnya. Tak ketinggalan pula sinetron di tanah air, akhir-akhir ini, seakan mendengungkan bahwa praktik ketidaksetiaan dalam pernikahan sebagai perkara yang wajar-wajar saja. Tema-tema spiritualitas dan mistisime tak ketinggalan menjadi program hampir seluruh saluran televisi nasional dewasa ini.

Mengahadapi tantangan semacam itu, mahasiwa teologi harus pandai-pandai mengatur diri, menjaga hati dengan segala kewaspadaan. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”, begitu tegas penulis Amsal (Amsal 4:23). Godaan terbit dari apa yang didengar dan dilihat, lalu melahirkan keinginan dunia yang bertentangan dengan kehendak Allah. Timbul pertanyaan: bagaimanakah mahasiswa dan dosen pendidikan teologi menjaga diri agar tidak tercemar oleh nilai hidup ini? (Yakobus 1:27). Bagaimanakah mahasiswa dan dosen teologi memelihara diri agar tidak terperangkap oleh keinginan dunia dan mengasihi dunia sehingga kasih kepada Bapa menjadi memudar? (I Yohanes 2:15-17). Jangan-jangan karena asyik dengan hiburan yang dilihat dan didengar melalui media, lalau mahasiswa atau dosen kurang memberi diri dalam persekutuan yang dinamis dengan Tuhan. Waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan berkurang. Dalam perkataan lain, mereka seakan-akan “diperhamba” oleh kenikmatan dunia ini. Padahal, seharusmya mereka memiliki pemikiran bahwa boleh saja menikmati acara-acara liburan di televisi dan radio atau video, namun jangan sampai diperhamba oleh semua itu. Kita harus belajar mengelola diri kita, pikiran, hati, perasaan bahkan tubuh jasmani kita sendiri (bd. I Korintus 6:12-27).

Mahasiswa teologi harus belajar banyak atau membekali dirinya dengan pemahaman etika yang jujur dan benar. Masalah pengambilan keputusn etis, sesuai dengan ajaran Alkitab perlu dipikirkan. Banyak masalah atau persoalan etis yang akan dihadapi mahasiswa di dalam pelayanannya. Menurut hemat saya, masalah-masalah gaya hidup seperti yang dibahas oleh Rasul Paulus dalam surat I Korintus yang memuat persoalan egosentrisme, sentimentalisme kelompok, penyelewengan seks dan pernikahan, homoseksualitas, relasi dengan penyembahan berhala, tampaknya penting untuk dicermati dengan baik. Selain etika kehidupan pribadi, etika kehidupan sosoial dan politik juga harus dipelajari oleh mahasiswa. Cobalah baca dengan cermat serta pelajari Kitab I Korintus baik secara pribadi maupun berkelompok. Renungkan secara mendalam, agar dapat menyimak pesan dan prinsip kehidupan dalam menghadapi pemerosotan zaman ini. Menghadapi ketegangan antara pengetahuan dan pengalaman hidup, misalnya dibahas dalam dua pasal pertama. Masalah perselisihan, persaingan hidup dan perseteruan, dibicarakan dalam pasal ketiga dan keempat. Masalah kebebasan seks, percabulan dan isu-isu pernikahan dibicarakan dalam pasal kelima, enam, dan ketujuh. Ada banyak lagi kekayaan moral, etis dan spiritual serta ekklesiologis dari kitab itu yang tidak mungkin dibahas dalam kesempatan ini!

Mahasiswa teologi harus belajar banyak atau membekali dirinya dengan pemahaman etika yang jujur dan benar


kedua, kebangkitan agama-agama besar dewasa ini banyak menggunakan jasa media komunikasi. Di tanah air kita juga, kebangunan agama-agama terjadi melalui pemanfaatan teknologi komunikasi. Kita menyaksikan setiap tengah malam dan subuh, televisi menyiarkan ajaran-ajaran agama dunia. Koran dan buletin bernuansa keagamaan majemuk terus muncul. Buku-buku dan majalah keagamaan untuk konsumsi berbagai kalangan sesuai dengan tingkat usia dan pendidikan, juga berkembang. Ini harus menantang kita sebagai peserta didik dalam pendidikan teologi, yang tengah dipersiapkan menjadi pelayan dan pemimpin jemaat. Pertama, terbuka jalan yang lebar dan luas untuk belajar dan mengetahui secara kritis dan kreatif segi-segi ajaran dan dinamika agama-agama dan keagamaan itu sendiri. Kedua, kita ditantang untuk memberikan jawab atas pertanyaan dan gagasan yang dikemukakan. Tidak jarang misalnya saya sendiri mendapatkan kiriman dari orang lain tentang pemahaman mereka sendiri mengenai Alkitab atau kekristenan untuk saya pikirkan dengan baik. Diskusi literatur populer tentang satu atau beberapa agama misalnya, perlu sekali kita kembangkan. Ketiga, kita harus semakin mempersiapkan diri untuk melayani jemaat yang membaca informasi yang sama itu. Pengajaran iman yang bersumber dari Alkitab namun menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitabn dengan agama-agama yang sedang bangkit, harus kita upayakan. Keempat, kita harus belajar menulis agar menerbitkan majalah literatur penyuluhan. Memperbanyak kaset-kaset rohani bukan hanya dalam aspek lagu pujian tetapi juga bahan pelajaran hidup beriman, amat dibutuhkan gereja dewasa ini.

Ketiga, ditengah tantangan kebangkitan agama-agama dewasa ini, mahasiswa teologi terpanggil untuk memahami arti dan makna serta mengetahui strategi hidup sebagai murid Kristus. Menjadi murid Yesus Kristus berarti komitmen hanya mengikuti Dia di dalam segala hal. Dia teladan hidup kita, tidak saja sebagai pribadi yang kita akui dengan mulut dan hati (bd. Iyohanes 2:6). Ajaran Matius 10:5-42 dan Markus 8:31-38 mengenai harga menjadi murid Yesus Kristus, penting dipahami dan dihayati dengan baik. Mengapa? Pertama, kebangkitan agama-agama sekarang ini cenderung memaksa teolog Kristen untuk memandang bahwa semua agama sama saja di hadapan Allah, semuanya membawa orang atau pemeluknya kepada dia. Ini lazim dinamakan pemahaman atau paradigma berpikir pluralisme. Ada juga teolog yang manyatakan bahwa orang dalam agama lain pun “sudah ditebus” oleh darah Yesus Kristus yang menjadi penebus dosa bagi semua manusia. Sekalipun mereka tidak percaya dan menerima pekerjaan Tuhan Yesus itu. Ini disebut pemahaman universalisme. Jadi kebenaran mutlak sebagaimana dikemukakan Yesus dalam Injil Yohanes: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup ...” (14:6) bersifat relatif dalam arti berlaku hanya bagi kelompok kristiani saja. Begitupun dengan ungkapan Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:12 bahwa keselamatan hanya di dalam nama Yesus Kristus. Paradigma pemahaman semacam ini lazim disebut sebagai ciri kehidupan postmodern di mana konsep relativisme sangat mendapat perhatian. Tidak ada yang dapat disebut kebenaran mutlak di muka bumi ini. Apa yang benar bergantung kepada penafsiran mana yang dipergunakan. Nah, jika sudah begini, bagaimanakah kita memberkati warga jemaat agar mengerti bahwa Yesus Kristus itu unik dan satu-satunya jalan kebenaran dan hidup (final)?

Sebab kedua dari pentingnya mengembangkan pemahaman tentang pemuridan ialah karena tantangan yang terus menerpa orang-orang percaya. Tidak sedikit yang melemah imannya karena tertekan atau terancam, seperti yang terjadi di daerah konflik sosial di tanah air kita beberapa waktu silam. Juga tidak sedikit yang akhirnya berpaling dari Injil yang menyelamatkan mereka, oleh sebab godaan dunia, kenikmatan hidup serta karena ancaman (bd. Lukas 8:4-15). Akan tetapi, kalau orang percaya mengenal dan mengerti betapa kuatnya kuasa Yesus Kristus dan betapa berharganya keselamatan yang Dia berikan, mereka akan dapat bertahan menhadapi tantangan itu. Jadi, mahasiswa teologi yang akan melayani warga jemaat, harus telebih dahulu meningkatkan diri mengenal siapa Yesus Kristus sebagaimana disaksikan oleh Kitab Injil, bukan sebagaimana didengungkan oleh kitab suci agama lain. Selama tujuh abad pertama, gereja menghadapi serangan yang amat dahsyat dari berbagai pihak. Memang, ada sejumlah tokoh gereja yang “ngawur” dipengaruhi filsafat zamannya. Akan tetapi begitu banyak yang bertahan serta kembali kepada ajaran Alkitab secara utuh. Saya beranggapan bahwa eksegesis yang baik isi kitab 1, 2 Petrus juga kitab Ibrani, perlu dikembangkan agar dapat memahami dinamika pemuridan di tengah-tengah tekanan yang terus mendesak. Kitab 1, 2 Petrus memanggil orang percaya untuk memandang betapa mahal karya Yesus Kristus yang menyelamatkan mereka. Seberat apapun pencobaan yang menerpa, tidak harus membuat iman kita kepada Yesus Krsitus tergoncang lalu kita menafsirkan diri-Nya dengan pola lain. Menurut Rasul Petrus, Yesus Kristus telah meninggalkan teladan bagaimana mengahdapi penderitaan.

Kitab Ibrani mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung yang ikut serta merasakan segala pengalaman orang yang percaya kepada-Nya (bd. 4:14-16). dialah Imam Besar yang lebih tinggi dari para malaikat. Dia melebihi Musa dan Harun, serta tokoh-tokoh Perjanjian Lama. Dia itu saleh, tak bercacat, tak bernoda, dan oleh karenanyalayak memberikan darah-Nya sendiri untuk menyucikan diri kita dari dosa dan kejahatan sehingga dapat beribadah dengan benar kepada Allah (bd. 9:14, 16-18). selanjutnya, kita dipanggil untuk terus meninggalkan segala beban dan dosa yang merintangi perjalanan hidup, sambil terus memandang Yesus Kristus penyempurna iman kita itu sendiri (bd. 12:1-3). bukankah jemaat membutuhkan pengajaran yang baik, benar, dan terus terang pada zaman yang sulit ini? Jika demikian, mahasiswa di lembaga pendidikan teologi harus mempersiapkan diri dengan lebih sungguh!

Keempat, berkaitan dengan proses belajar dalam pendidikan teologi. Pada masa depan, pendidikan tidak hanya bertumpu kepada proses belajar mengajar di kelas, tempat guru atau dosen berjumpa atau beribteraksi dengan murid atau mahasiswa. Perpustakaan akan merupakan sumber informasi yang amat penting, tempat terdapat banyak buku, jurnal, majalah, dan media lainnya. Seiring dengan perubahan itu, akan terjadi pergeseran sikap mental, mahasiswa merasa tidak lagi bergantung kepada guru atau dosennya (teacher oriented). Lambat laun, dosen bukan lagi narasumber satu-satunya, di mana ajaran atau petuahnya harus dicatat dan dihafalkan oleh peserta didik. Sebaliknya, guru hanya akan lebih baik bila berperan sebagai fasilitator, pengarah, rekan diskusi dan pendorong (motivator). Di pihak lain, mahasiswa akan semakin kurang memandang dosen atau guru sebagai sesepuh yang mesti didengarkan. Pendapat, ide, dan ajaran mereka dapat dikritik, diperdebatkan. Begitu juga dengan gaya hidup mereka, dapat diperbincangkan. Guru dan peserta didik dalam lingkungan pendidikan teologi harus siap menghadapi perubahan ini. Kedua pihak harus menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran kreatif. Sudah banyak pendidikan teologi yang beroperasi tanpa harus dengan pendekatan tradisional, tatap muka di kelas. Lewat pembelajaran jarak jauh namanya. Orang dapat belajar melalui media elektronik, tertulis atau media lain. Sekalipun demikian, mahasiswa pun harus tetap mengerti cara Allah menyatakan kebenaran, selain melalui pengalaman, pengamatan, literatur, juga terutama melalui orang. Mahasiswa tetap membutuhkan orang, tidak harus selalu guru atau profersornya, tetapi bisa juga rekan-rekannya atau orang-orang yang lebih senior di lapangan pelayanan. Singkatnya, mari kita ingat bahwa Allah menjelma menjadi manusia (inkarnasi) agar melalui ajaran dan gaya hidup serta sikap hidup-Nya, kita dapat belajar kebenaran yang memerdekakan itu. Di tengah perubahan teknologi pendidikan dan pembelajaran, mahasiswa tetap memerlukan orang dalam pembentukan dirinya sendiri.

Mahasiswa teologi yan g akan melayani warga jemaat, harus terlebih dahulu meningkatkan diri mengenal siapa Yesus Kristus sebagaimana disaksikan oleh Kitab Injil, bukan sebagaimana didengungkan oleh teolog liberal atau seperti yang dikomunikasikan oleh kitab suci agama lain





Back to top