BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP BURNOUT DIKALANGAN ROHANIAWAN KRISTEN DI BANDUNG

Penulis: Dr. RUDY ALDRIE ALOUW., Psikolog.

Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus.

Pengajar di Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus Bidang Konseling.

 

Abstrak. Bornout merupakan fenomena yang lebih sering dialami oleh pekerja yang sifatnya melayani manusia, termasuk rohaniawan . Kepelbagian tugas tanggungjawab yang dihadapi rohaniawan sangat berpotensi mengakibatkan burnout. Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji model teoritik yang menggambarkan pengaruh tuntutan pekerjaan dan pola perilaku tipe A terhadap burnout serta dukungan sosial terhadap burnout religious coping sebagai mediator.

Hasil pengujian Hipotetik dengan menggunakan Sructural Equation Model (SEM) melalui sofware Linear Stuctural Equation Model ( SEM ) melalui sofware Liner Structural Model ( LISREL ) versi 8,72 dari joreskog dan Sorbon (2008), terhadap 230 responden,yaitu rohaniawan yang melayani gereja dan sekolah tinggi teologi ,menunjukan bahwa tuntuntan pekerjaan dan pola perilaku tipe A berpengaruh signifikan dan positif terhadap burnout,sedangkan dukungan sosial berpengaruh signifikan dan negatif terhadap burnout melalui religious coping sebagai mediator. Tulisan ini juga menyajikan saran-saran yang ditunjukan kepada rohaniawan dan organisasi untuk menyingkapi burnout.

 

Kata Kunci:     burnout,religious coping, tuntutan pekerjaan,pola perilaku tipe A, dukungan sosial

 

PENDAHULUAN

Fenomena burnout yang diartikan sebagai gejala mengakibatkan kelelahan emosi,sinisme dan perasaan penuruaan pencapaian, lebih sering dialami oleh pekerja yang sifatnya menolong manusia ( human Service worker ) seperti gutu,dosen,dokter,perawat,psikolog,konselor,(Maslach et al,1993;Ivancevich,2007;Silvaa et al,2009) Kemudian Evers dan Tomic.(2003) menejelaskan bahwa clergyman(selanjutnya disebut rohaniwan)dapat dikategorikan sebagai human service worker karena tugasnya berorientasi,mengajar selain tugas manejerial ditambahkan oleh Barbara (1987) bahwa tugas rohaniawan berfungsi sebagai caregiver (pemerhati) helper(penolong) dan shephard( gembala/pelindung)yang meliputu empat tanggungjawab: pertama, rohaniawan perlu mengatur diri sendiri untuk siap menghadapi tantangan.Kedua,rohaniawan harus memperhatikan dan mengatur umat atau jemaat.Ketiga,rohaniawan harus mempersiapkan anggota jemaat untuk menghadapi resikoi-resiko kehidupan. Keempat,rohaniawan harus berperan untuk menanamkan a.keyakinan terhadap jemaat yang dilayani baik melalui kotbah,pengajaran maupun perilakunya

Rohaniawan digambarkan bukan sebagai pendeta(gembala) saja, yang berperan untuk mengajar firman Tuhan tetapi juga dipanggil untuk memberikan contoh hidup kepada umat yang dilayaninya. Jadi,berita yang disampaikan tidak dapat dipisahkan dengan hidup sipemberita.

Semua tugas dan tantangan di atas tidak dapat dielakan sehingga bila tidak ditata dengan baik jenis pelayanan maupun waktunya akan mengakibatkan burnout. Beberapa penelitian terdahulu membuktikan bahwa tugas rohaniawan berpengaruh positif terhadap burnout ,seperti penelitian Evers dan Tomic yang meneliti 140 rohaniawan di Belanda,ternyata 11% menealami kelelahan emosi, 3% perubahan kepribadian dan 62% merasa penurunan hasil pelayanan. Berbagai penelitian lain membuktikan bahwa tugas dan tanggungjawab rohaniawan berpengaruh positif terhadap burnout (Hall,1997; London&wiseman,2003)
                                    Feneomena burnout diangkat dalam tulisan ini karna beberapa alasan: Pertama, dampak burnout terhadap individu sepertri melemahnya aspek kognitif,emosi,depresi dan gangguan fisik. Burnout berkorelasi positif dan insomnia,penyimpangan perilaku seperti candu alkohol yang berat,percandu narkoba,bunuh diri dan berbagai gangguan fisik lainnya seperti penyakit jantung dan stroke(shirom et al.2006;Shirom , 2009, & Hart (1984). Kedua. Dampak burnout terhadap keluarga : 48% dari 1500 pendeta mengalami ketidakharmonisan dalam rumah tangga,( London & wiseman,2013).ketiga, dampak burnout  bagi organisasi:meningkatnya ketidak-puasan kerja, penurunan komitmen,meningkatnya absenteism(membolos) dan turnover(mengundurkan diri ) ( Maslach&leiter,2008)

Faktor-faktor pengaruh munculnya burnout sangat bervariasi seperti tekanan dan tuntuan pekerjan,meningkatnya tanggungjawab, peran yang tidak jelas,kurang penghargaan,kurangnya dukungan sosial,pola perilaku,Self-efficacy,kurang kontrol,kondisi,fisik ,gangguan pelecehan,perubahan,organisasi ,konflik-konflik komunitas yang rusak,konflik nilai,tidak mempunyai arah dan pekerjaan yang berlebihan ( Reggio,2009;Weiten &lloyd;Maslach&Leiter;1997)

Tidak semua faktor pengaruh diatas digunakan dalam penelitian difokuskan pada rohaniawan saja. Oleh Karena itu,penulis memilih empat faktor pengaruh yang terdiri dari dua faktor ditinjau aspek individi yaitu pola perilaku tipe A(type A behaviour pattern) (pola perilaku tipe A adalah pola perilaku individu yang ditandai dengan ketidak-sabaran,keterlibatan kerja dan kompetitif.Pola perilaku tipe A merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap burnout (Ivancevich,et al 2007) dan religious coping serta dua faktor lainnya ditinjau dari aspek organisasi yaitu tuntuan pekerjaan(job demand) dan dukungan sosial. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah menguji model teoritik yang menggambarkan pengaruh tuntutan pekeraan dan pola perilaku tipe A terhadap burnout serta dukungan sosial terhadap burnout  dengan religious coping sebagai mediadorfit dengan data empirik

KERANGKA BERPIKIR

Secara teoritik benar bahwa semakin tinggi tuntutanpekerjaan yang dihadapi rohaniawan dan kuatnya pengaruh pola perilaku A semakin berpotensi untuk mengalamiburnout.Namun tidak demikian bagi rohaniawan yang memiliki Religious coping  yang tinggi.,diperkuat dengan banyaknya dukungan sosial akan mengurangi potensi mengalami burnout.

Tuntuan pekerjaan dapat memicu munculnya burnout apabila beban kerja kuantitas yang meliputi banyaknya tugas pekerjaan yang perlu diselesaikan tinggi, namun jumlah waktu atau kapasitas rohaniwan kurang memadai. Untuk memenuhu tuntutan tersebut seringkali rohaniawan memaksakan diri untuk melakukan berbagai cara sehingga waktu beristirahatpun terabaikan dan akhirnya mengalami kelelahan ( Grosch & Olson,1991; Karasek,et al,1998;Scheufeli & Bakker , 2004). Selain itu,rohaniawan juga dituntut untuk mampu memenuhin tun-tan kualitatif seperti pengetahuan,kemampuan dan keterampilan. Jones(2008) mengatakan seringkali rohaniawan mengalami ketegangan,kecemasan,ketakutan dan kemarahan serta keyakinan diri menurun dalam melaksanakan sesuatu yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan keterampilan dalam melakasanakan tugas tersebut. Dengan demikian patut diduga bahwa tuntutan pekerjaan berpengaruh langsung dan positif terhadap burnout.

Rohaniawan yang memiliki pola perilaku tipe A, tidak sabar menghadapi individuyang lamban. Itu sebabnya rohaniawan tersebut akan membuktikan kepada individu atau organisasi bagaimana melakukan tugas dengan bersemangat,setiap waktu adalah urgen sehingga piantang menyia-nyiakan waktu, setiap waktu adalah urgen sehingga pantang menyia-nyiakan waktu. Fokus hidupnya adalah pekerjaan,kadangkala rohaniawan tersebut melakukan beberapa tugas sekaligus demi tercapainya tujuan, bila perlu dalam waktu yang seingkat-singkatnya. Apabila tujuan tidak tercapai karena berbagai kendala maka rohaniawan yang memiliki pola perilaku tipe A akan mengalami kekecewan,frustasi,kemarahan,kelelahan dan konflik sosial meningkat (atkinson,1987), dan burnout dialami. Dengan demikian patut diduga,pola perilaku A berpengaruh langsun dan positif terhadap burnout.

Namun demikian pargament dan Cummings ( 2010) mengatakan bahwa apabila rohaniawan tingkat religious yang tinggi maka rohaniawan akan mampu memprediski dan menghambat muculnya kelelahan emosi,sinis dan kekurangan -yakinan diri dalam pelayanan. Dengan kata lain religious coping menghambat munculnya burnout atau mengurangi gejala burnout. Dengan demikian dapat diasumsilan bahawa religious coping berpengaruh langsung dan negatif terhadap bornout. Apalagi ketika rohaniawan menerima memperoleh dukungan sosial baik dari keluarga,rekan sekerja maupun organisasi maka religious coping akan diperkuat. Haihara et al ( 1998);Schwarzer dan Buchwald (2004) mengatakan apabila rohaniawan memperoleh dukungan sosial berupa emosi , informasi dan instrumen fisik lain makan rohaniawan akan mengalami well-being sebaliknya bila tidak memperolehnya maka akan mengalami ketidak-bahagian. Demi efektifitas dukungan sosial lebih dinikmati ,biasanya ditunjukan melalui saling mendukung,menghibur,mendoakan sebagimana ciri komunitas Kristen. Dengan demikian dukungan sosial juga dapat berpengaruh positif terhadap religious coping .Artinya dukungan sosial dapat  berpengaruh  langsung negatif terhadap burnout.

PENELITIAN

Untuk melihat korelasi anatara burnout  dengan tuntutan pekerjaan dan perilaku tipa A ( dua faktor yang positif terhadap burnout ); dan religious coping dan dukunhan sosial ( dua faktor yang negatif terhadap burnout ),penulis meneliti rohaniawan yang melayani di gereja dan sekolah teologia di Bandung berjumlah 662 responden. Rohaniawan dipilih sebagai subyek penelitian karena memiliki multi peran seperti sebagai gembala ,pengkotbah,konselor,pengajar,pengayom dan panutan umat yang sangat berpotensi mengalami burnout  akibat dari Job Overload. Selain itu ,rohaniawan membutuhkan pemahaman yang benar tentang prioritas-prioritas dalam tugas pelayanan supaya dapat berjalan seimbang tanpa merugikan diri sendiri,keluarga dan organisasi.

 

POPULASI ,SAMPEL DAN TEHNIK SAMPLING

Penentuan jumlah sampel dalam  penelitian ini menggunakan metode yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael,dalam ( Supriyoko,1988) melalui beberapa syarat yaitu (1) tentukan jumlah populasi;(2) Pemilihan taraf kesalahan(sig.Level 1%,5% dan 10%; dan (3) mencocokan pada tabel penentuan jumlah sampel.

Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 663 rohaniawan dengan taraf kesalahan 5%, maka jumlah sampe sesuai tabel berada pada kisaran 227 responden. Sedangkan pengambil sampel menggunakan tehnik sampling aksidental yang berarti penentuan sampel berdasarkan faktor spontanitas,siapa saja yang penulis jumpai dapat dijadikan sampel (Riduwan &Adkon,2010). Penulis mendatangi beberapa pertemuan rohaniawan baik yang difasilitasi oleh PEMBIMAS Kristen Jawa Barat maupun oleh sinode gereja tertentu dengan siapa saja yang ditemui penulis dapat dijadikan sampel.Selain itu penulis mengunjungi gereja tertentu dan sekolah teologia serta meminya agar rohaniawan yang dijumpai bersedia menjadi sampel penelitian. Asalkan sesuai dengan karakterristik subyek penelitian yaitu :

Berpendidikan teologia,minimal diploma dan rohaniawan yang melayani dalam gereja lokkal atau sekolah teologia yang dikelola yayasan sebagai pelayan penuh waktu kriteria tersebut ditetapkan karena tidak semua pendeta berpendidikan teologia dan pelayan penuh waktu.

 

PENGGUMPULAN DATA

 

Lima variabel dalam penelitian ini yaitu: (1) skala tuntutan pekerjaan (2) skala pola perilaku tipe A;(3) skala religious coping;(4) skala dukungan sosial;(5) skala burnout.Model skala dalam penelitian ini menggunakan skala lkert,dan skala semantic differntial. Skala variabel tuntutan pekerjaan: responden diminta untuk memberikan penilaian terhadap setiap item yang sesuai dengan dirinya pada rentang nilai antara angka satu (1) dan angka (5) yang merupakan nilai tertinggi yang mencerminkan bobot yang diberikan reponden terhadap suatu item/pernyataan. Skala ini berjumlah 10 item.

                                                Skala variabel pola perilaku tipe A menggunakan skala semantic differential,berjumlah 9 kata sifat yang di kontraskan,terdiri dari aspek fketidaksabaran(evaluasi) untuk item 1-3,keterikatan kerja(kegiatan) untuk item 4-6 dan kompetetif (potensi ) untuk item 7-9(Osgood,et al.dalam lang & Bradley,1994).Responden diminta untuk mengisi dua kutub penilaian yang dinyatakan dengan angka 1-5. Angka 1 merupakan nilai yang mencerminkan sifat yang tidak menunjukan pola perilaku tipe A dan angka 5 merupakan nilai tertinggi yang mencerminkan pola perilaku tipe A. Demikian halnya dengan skala variabel religious coping. Respnden diminta untuk menilai setiap item sesuai dengan dirinya melalui rentang angka 15. Angka 1 merupakan nilai terendah yang mecerminkan bobot terendah yang diberikan responden terhadap suatu itrm/pernyataan,dan anga 5 merupakan nilai tertiggi yang mencerminkan bobot tertinggi yang diberikan responden terhadap suatu item/pernyataan.Skala ini berjumlah 12 item pernyataan.

                                                Skala variabel dukungan sosial :responden diminta untuk memberikan penilaian terhadp setiap item yang seuai dengan (5). Angka 1 merupakan nilai terendah terhadap suatu item/pernyataan untuk menjelaskan kurangnya dukungan sosial dan angka 5 merupakan nilai tertinggi yang mencerminkan bobot tertinggi yang diberikan responden terhadap suatu item/pernyataan untuk menjelaskan tingginya dukungan sosial.Skala ini berjumlah 12 item.

                                                Sedangkan untuk skala variabel burnout responden diminta untuk menilai setiap item sesuai dengan dirinya melalui rentang angka 15 dengan penilaian:angka 1 merupakan nilai terendah yang mencerminkan bobot terendah yang diberikan reponden terhadap suatu item/pernyataan,dan angka 5 merupakan nilai tertinggi yang mencerminkan bobot tertinggi yang diberikan reponden terhadap suatu item/pernyataan.Skala ini berjumlah 18 item.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

Karena keterbatasan tempat,maka artikel ini tidak bisa menampilkan hasil penelitian di atas secara rinci.Namun secara umum dapa dikatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tuntutan pekerjaan,pola perilaku tipe A terhadap burnout serta dukungan sosial terhadap burnout dengan religious coping sebagai mediator

 

Pengaruh Beban Pekerjaan Terhadap Burnout

Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini membuktikan bahwa tuntutan pekerjaan berpengaruh terhadap burnout. Dengan demikian , tuntutan pekerjaan yang tinggi akan diikuti oleh burnout yang tinggi. Tuntutan pekerjaan merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada rohaniawan untuk dilakukan terus menerus baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Rohaniawan diperhadapkan dengan banyaknya tuga pelayanan , dan waktu yang digunakan untuk pelayanan tersebut. Disamping itu tuntutan yang bersifat kualitatif seperti pengetahuan dan kemampan untuk melaksanakan tugaspun menjadi pergumulan rohaniawan. Evers dan Tomic(2003) mengatakan apabila semua tuntutan tersebut berhasil ditata dengan baik dan berhasil dilaksanakan maka rohaniawan akan mengalaimai well-being namun bila tidak maka tuntutan yang tidak mampu dilaksanakan akan menyebabkan tekanan-tekanan yang dapat berakhir pada burnout.

                                                Aspek dari tuntuan pekerjaan yang lebih berpengaruh terhadap burnout adalah beban kualitatif dibandingkan dengan beban kuantitatif. Ketidak-mampuan rohaniawan dalam menggunakan pengetahuan,kemampuan dan keterampilan dalam melaksanakan tugas layanan,besar kemungkinan akan mengakibatkan burnout. Oleh karena itu, meningkatkan kompetensi dir dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan,seminar dan atau studi lanjut akan sangat membantu untuk mengurangi beban rohaniawan, yang pada gilirannya akan menghambat .munculnya burnout. Demikian hal dengan pengaruh beban kuantitatif mendapatkan perhatian jga karena pengaruhnya terhadap burnout cukup signifikan. Rohaniawan perlu menetapkan prioritas tanggung jawab dan atau dapat mendelegasikan tugas dengan rekan sepelayanan.

 

 

 

 

 

 

 

PENGARUH POLA PERILAKU TIPE A TERHADAP BURNOUT

Berdasarkan pengujian hipotesis pengaruh pola perilaku tipe A terhadap burnout , terbukti signfkan maka temuan ini menegaskan bahwa munculnya burnout dipengaruhi oleh kuatnya pengaruh pola perilaku tipe A rohaniawan.

                                                Aspek kompetetif dan ketidak-sabaran lebih banyak memberikan kontribusi terhadap burnout. Kompetetif merupakan aspek dari perilaku tipe A yang memberikan kontribusi paling besar terhadap burnout.Artinya sifat kompetetif rohaniawan nampak dalam pelaksanaan tugas layanan seperti tidak pernah puas,selalu bertanding melawan waktu,selalu berpacu untuk mencapai yang lebih lagi. Oleh karena itu rohaniawan akan mempercepat kegiatan-kegiatan bahkan menjadwalkan berbagai kegiatan secara berlebihan,sehingga waktu senggang dan rekreasipun selalu tegang. Munculnya sikap tersebut bukan karena adanya rohaniawan lain yang menyaingi melaikan secara implusif sikap tersebut muncul karena ada ketakutan individu lain akan menyainginya(Minirth,et al 1986). Burnout tidak terelakan ketika tugas-tugas tidak terselesaikan tepat waktu.

                                   

Ketidak-sabaran juga merupakan aspek dari pola perilaku tipe A yang memberikan kontribusi cukup signifikan. Dengan kata lain,rohaniawan dapat mengalami Burnout t akibat ketidak-sabaran baik dala pelaksanaan tugas pelayanan mampu menghadapi individu lainnya . Dalam pelaksanaan tugas layanan rohaniawan tersebut tidak mau membuang-buang waktu ,selalu diisi dengan berbagai kegiatan sedangkan dalam hubungan sosial rohaniawan kurang sangu mendengarkan dengan sabar ,selalu interupsi dan konflik tak terelakan. Sedangkan dalam hubungan sosial ,rohaniawan berpola perilaku tipe A tidak betah bekerjasama dengan indvidi yang terlalu lambat dalam bertindak . Selain konflik dengan muda terjadi ,juga dapat menyebabkan frustasi bagi rohaniawan tersebut. Oleh karena itu sangat penting bagi rohaniawan berpola perilaku tipe A untuk menyesuaikan diri.

Pengaruh Religious Coping terhadap Burnout

Hasil pengujian hipotesis pengaruh religious coping terhadap burnout terbukti berpengaruh negatif dan signifikan. Artinya ,hadirnya religious coping dapat mengurangi atau menghambat munculnya burnout bagi rohaniawan (Cohen & koeing,2004). Dengan kata lain,semakin tinggi aspek religious coping semakin berkurang terjadinya burnout. Oleh Karena itu,religious coping yang diartikan sebagai upaya rohaniawan untuk menggunakan keyakinan atau kepercayaan religious guna mencegah atau meringankan dampak psikologis dari tekanan-tekanan  yang dihadapi perlu untuk ditingkatkan melalui pengembangan aspek-aspeknya.

                                                Hasil temuan penelitian ini membuktikan bahwa berdoa merupakan aspek religious coping yang paling berpotensi memberi pengaruh negatif terhadap burnout. Berdoa ,selain cara berkomunikasi dengan Tuhan,merupakan kesempatan untuk menyerahkan semua beban kerja kepada Tuhan yang dilandasi oleh keyakinan bahwa pasti Tuhan akan menyanggupkan rohaniawan menghadapi berbagai tantangan. Cohen dan Koenig (2004) mengatakan berdoa kepada Tuhan berpengaruh positif terhadap kemampuan mengatasi permasalahan dan hambatan-hambatan dalam pekerjaaan.

                                                Aspek lain dari religious coping yaitu iman. Iman merupakan keyakinan individu terhadap kemahakuasaan Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan. Iman sangat memberikan kontribusi bagi rohaniawan untuk mengantisipasi dan mengatasi burnout. Artinya iman dapat menghambat munculnya burnout meskipun banyaknya tanggungjawab yang harus dikerjakan oleh rohaniawan. Hill dan Hood(1999)mengatakan bahwa rohaniawan yang memiliki iman yang kuat meyakini bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar yang sempurna dalam menghadapi masalah atau tantangan dalam pelayanan.

                                                Meskipun aspek komitmen terhadap kitab suci merupakan aspek dari religious coping yang paling kecil pengaruhnya terhadap burnout namun pengaruhnya cukup signifikan. Itu berarti aspek tersebut tidak dapat diabaikan bahkan perlu ditingkatkan agar semakin dimampukan untuk mengurangi burnout.

                                                Dengan demikian semua aspel religious coping baik iman,doa dan komitmen terhadap kitab suci mampu untuk mengantisipasi munculnya burnout rohaniawan,khususnya ketika dukungan sosial menurun.

Pengaruh dukungan Sosial Terhadap Burnout

Hasil uji hipotesis dukungan sosial terhadap burnout ,membuktikan bahwa ada pengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout melalui religious coping.Dukungan sosial yang diartikan sebagai perasaan nyaman yang dialami oleh rohaniawan karena menerima dukungan emosi,informasi dan istrumen fisik lainnya baik dari keluarga , teman sekerja maupun organisasi. Sesuai hasil analisa data terbuktikan bahwa dukungan sosial religious coping akan meningkat karena adanya dukungan sosial sehingga mampu menghambat munculnya burnout sesuai pendapat Cohen dan Koenig,(2004);Hill dan Hood (1994)

                                                Semua aspek dari dukungan sosial memberikan kontribusi yang merata yakni >75% terhadap religious coping yang meliputi dukungan emosi , dukungan informasi dan dukungan instrument fisi. Artinya dukungan sosial memberikan kontribusi cukup besar terhadap religious coping sehingga rohaniawan mampu mengantisipasi dan mengatasi burnout

                                                Jadi,aspek-aspek dukungan sosial yang diwujudkan melalui dukungan emosi yakni saling mendoakan,memperhatikan ,mengasihi,menghargai dan menerima baik dari keluarga , teman sekerja maupun penerima layan (Schwarzer & Buchwald,2004;Halstead,2000) mempengaruhi tingginya tingkat religious coping yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tingkat burnout juga.

Sedangkan pengaruh dukungan informasi yang diterima seperti umpan balik,afirmasi,nasehat,saran andan pengarahan ,juga cukup memberikan kontribusi bagi pengembangan religious coping rohaniawan sehingga mampu menyikapi berbagi persoalan dalam pelayanan guna mengatasi berbagai stress pekerjaan sebeum mencapai burnout.

                                                Hastead(2000) mengatakan bahwa selain dukungan yang nyata yang berbentuk gaji,juga bentuk-bentuk dukungan lainnya berapa tunjangan atau benefit pachage atau post card,perjalanan liburan dan lain-lain. Hasil analisa menjelaskan bahwa pada umumnya rohaniawan telah merasa puas dengan dukungan yang diterimanya sehinga memperkuat religious coping yang emosi masih perlu ditingkatkan lagi .

                                                Melalui hasil penelitian ini secara menyeluruh, ditemukan teori baru yang menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan dan pola perilaku tipe A berpengaruh terhadap burnout serta dukungan sosial terhadap burnout dengan religious coping sebagai mediator dengan setting organisasi sosial kerohaniaan berupa gereja dan sekolah teologi di Bandung.

 

SARAN-SARAN

 

Bagian ini akan fkus pada saran-saran aplikatif terhadap rohaniawan dan organisasi . Pertama,saran bagi rohaniawan.Hasil penelitian membuktikan bahaw pengaruh aspe beban kuantitas pekerjaan seperti banyak tugas dan waktu yang dihadapi rohaniawan berpengaruh positif terhadap burnout oleh karena itu untuk menyikapi kompleksitas pelayanan yang dihadapi maka rohaniwan disarankan untuk dapat menata tugas layanan sesuai prioritas guna menghindar penumpukan beban kerja yang dapat mengakibatkan kelelahan emosi,mental dan fisik. Untuk menghindari burnout maka diperlukan strategi yang efektif sesuai pola dari Tuhan Yesus:perubahan lokasi, perubahan aktifitas atau tanggung jawab dan mengatur waktu.

                                                Rohaniawan perlu untuk melakukan evalusai .Pada tahap ini,rohaniawan melalui asesmen diri untuk mengevaluasi pengetahuan kemampuan dan skill yang dimiliki guna melaksanankan tugas dan tanggung jawab. Kemudian evalusasi akan jenis tugas dan tanggung jawab apakah memadai dengan kapasitas dan capital yang dimiliki oleh rohaniawan ,seperti religious dan dukungan sosial yang dimiliki.

                                                Rohaniawan juga perlu melaukan pencengahan ,menyikapi beban kerja yang bersifat kualitatif seperti pengetahuan dan kemamuan dalam melakasanakan tugas pelayanan , maka rohaniawan dituntut untuk meningkatkan baik pengetahuan maupun kemampuan agar pelayanan yang dilakukan dapat menjawab kebutuhan anggota jemaat atau peneriman layanan secara efektif. Termasuk peningkatn kemampuan dalam menggunakan media elktronkik seperti internet dan media sosial lainnya. Kalaupun  organisasi tidak menyediakan fasilitas tersebut maka inisiatif individu untuk meningkatkan expertise(keahliaan) dalam bidang layanan tertentu, seperti konseling .Rohaniawan selalu berupaya untuk mengetahui lebih banyak melalui riset,bacan ,pelatihan-pelatihan dalam bidang konseling agar semakin terampil dalam memberikan pertolongan tanpa terbebani.

                                                Pola perilaku tipe A yang dimiliki rohaniawan sangat berpengaruh positif terhadap burnout ,khususnya aspek ketidak-sabaran dan kompetitif. Oleh karena itu disarankan bagi roahaniawan yang berpola perilaku tipe A agar selalu mengevalusai diri bahwa dalam mencapai tujuan pelayanan tidak harus terburu-buru ,apalagi kawan sekerja dalam organisasi semuanya memiliki pola perilaku tipa B yang lebih bersifat sabar,lambat,santai dan pasif,dapat dipastikan rohaniawan akan mengalami frustasi dan bahkan burnout karena rohaniawan yang memiliki pola perilaku tipe A akan tergoda untuk mengerjakannya sendiri.

                                                Demikian pula dengan sifat kompetetif yang juga berpengaruh positif terhadap burnout.Disarankan bagi rohaniawan yang memiliki pola periaku tipe A agar menyadari bahwa tugas pelayanan yang dilakukan bukan tugas manusiawi semata melakinkan dari Tuhan demi melaksanakan misi-Nya untuk menolong mat .Karena terlalu tergesa-gesa.akhirnya tindakan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan ( Bil 20:10-12 ) jadi yang perlu dikembangkan dalam pelaksanaan tugas mulia dari Tuhan bukan berkompetisi yang tidak sehat demi kehormatan dan keberhargaan individu melainkan memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

                                                Dukungan sosial terbukti mampu menghambat dan menurunkan burnout melalui religious caping. Oleh Karena itu ,penting bagi rohaniawan burnout melalui religious coping. Oleh karenaitu ,penting bagi rohaniawan untuk mendapatkan dukungan dari anggota keluarga dalam bentuk dukungan emosi ditunjukan melalui penerimaan statusnya sebagai rohaniawan. Demikian halnya  dengan kebutuhan akan dukungan rekan sekerja,maka rohaniawan dianjurkan untuk melibatkan diri dengan kelompok para rohaniawan baik se-denominasi maupun di luar denominasi, atau menjadi anggota profesi rohaniawan sebagai arena untuk shareing informasi dan pengalaman mapupun saling mendoakan satu sama lain (ibrani 10:24) .Doa sangat bermanfaat bagi pengembangan rohani individu namun bila berdoa bersama-sama akan memberi kontribusi lebih secara komunitas ( Yakobus 5:16)

                                                Fungsi komunistas rohaniawan adalah saling menasehati,saling menghibur ,saling mendoakan dan saling membabantu. Oleh karena itu dukungan sosial dapat berengaruh terhadap aspek religious rohaniawan yang pada gilirannya dapat mengatasi atau menyesuaikan tuntutuan pelayanan. Aspek religious atau spiritual rohaniawan  juga perlu ditingkatkan, bukan hanya sampai pada tataran kognisi melainkan perlu penghayatan kedalam emosi dan pengalaman serta pengalaman kedalam tidakan . Artinya keyakinan atau iman , doa dan firman Tuhan harus menjadi bagian yang hakiki dalam pelayanan,bukan hanya tahu adanya Tuhan tetapi mengalami hidup bersama Tuhan.

                                                Selain itu rohaniawan dapat menerapkan tehnik manajemen waktu melalui beberapa langkah: (a) monitor penggunaan waktu: misalnya mencatat semua aktifitas setiap awal dan akhir minggu ,analisa bagaimana mengalokasikan dan menggunakan waktu secara tepat seperti melayani kapan dan di mana,mengerjakan pekerjan rumah, waktu untuk makan dan tidur. Ketika memulai menerapkan manajemen waktu,semua tugas dan tanggung jawab,mengarah ke sana; (b) menetapkan tujuan dan bagaimana pencapainnya; ( c) semua perencanaan kerja/pelayananan dibuatkan jadwal relistis;(d) usahakan tepat waktu; (e) efisensi merupakan salah satu sasaran yang perlu ditingkatkan.

                                                Contoh Elia yang berhasil dari pengalaman burnout(1) Elia membutuhkan istrahat dan makan (1 Raja-raja 19:5-6); (2) Allah mengizinkan Elia meliha dan merasakan bagaimana bukti penyertaan Tuhan ( ay.9-17); (3) Elia mengeluarkan semua alasan burnout yang dialaminya,kemudian Tuhan membawa Elia pada keadaan yang realistis (ay 4,10,14); (4) Elia dikuatkan kebali dengan urapan baru (ay.15-16); (5) Elia membagi beban dengan sahabat:Elisa menjadi sahabat Elia (ay.18-21).

                                                Kedua, saran bagi organisasi. Mengingat rohaniawam memiliki multi peran baik sebagi pengkotbah ,pengayom,pengajar,maupun konselor dengan scope layanan yang luas seperti konseling pernikahan,anak ,penyakit hingga kematian yang telah terbukti daptat menyebabkan burnout. Oleh karena itu ,organisasi yang menaungi para rohaniawan perlu melakukan beberapa tindakan untuk meminimalisir munculnya burnout sebagai berikut:

  • Organisasi perlu menginventaisir resiko-resiko yang dapat mengakibatkan burnout seperti untutan pekerjaan yang kemungkinan telah melebihi kemampuan rohaniawan, dan lain-laib
  • Screening bagi setiap rohaniawan untuk mengindentifikasi burnout sebeleum terjadi psikotes atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara individu yang beresiko mengalami burnout untuk segera diberikan pertolongan dengan tidak beresiko mengalami burnout
  • Menempatkan rohaniawan dengan pola pikir tipe A ke dalam bidang pelayanan yang cocok misalnya intervensi krisis.Jenis pelayanan ini membutuhkan individu yang segera bertindak, tidak menunda-nunda tugas, meskipun perlu pengawasan dan pendampingan denga dari organisasi
  • Organisasi atau para pemimpin perlu memberikan dukungan sosial yang baik bagi rohaniawan dengan cara memberikan perhatian,penghargaan,kasih,doa dan pemenuhan kebutuhan fisik keluarga rohaniawan
  • Organisasi perlu menyediakan sarana teratment seperti ruang koseling dan konselornya untuk masalah psikologis serta pelayanan medis bila dibutuhkan.

Organisasi perlu merencanakan retret bagi rohaniawan dan keluarga secara berkala dan menetapkan  sabbtacial (cuti sabat ) untuk  upgrade diri secara bergiliran.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson,J.M.1997 . Mengatasi stress di tempat kerja. Jakarta: Binarupa Aksara Barbara,G,1987.who ministires? A study of support System fo Clergy     

and spouses,  Bethesda,M.D,: The Alban Institut

Cohen,A.B., & Koenig,H.G.2004.” Religion and Mental.” Dalam C.

Spilberger ( peny), Encylopedia of Applied Psychology,3:255-258

Oxford,Uk:Elsevier Academic Press

Evers,W. & Tomic,W 2003.” Burnout Among Dutch Reformed Pastors.” Journal of

Psychology and Theology 21 (4):329-338.

Grosch,W.N., & Olson.D 1991.”Clergy Burnout: A selft Pscyhology and systems Perspectivw.” Journal of Pastoral Care 45:279-304

Hall,T.W-1997.” The Personal of Pastors of Pastors.”A Review Of empiricial Research                  With Implication for thw care of Pastors.: Journal of Psychology and                                       Theology 25:240-253.

Hagihara,A.,Taraumi,K,Miller.1998.”Social Suppory at work as a buffer a work                               stress,Strain Relationship: A signal Detection Approach.” Stress Medicine                      14:75-81

Hill,P.C.,& Hood,R., W.1999.” Affect , Religion and Unconcious Processes journal of

Personality 67:1015-1046

Ivancevich,J.M., Konopaske,R & Mattison,M.T 2007,Perilaku dan Management Organisasi,Jakarta: Erlangga.

Jones,G.E.2008.Predictors burnout in porofesiional Parachrch worker.

Dissertation Doctor Of Philosophy in Counselor Education.Texas Tech      University

Karasek,R.A.; Brison,C Kawakami,N.; Houtman,I., Bingers,P.& Amick 1998

“ The Job Content Quesationnaire ( JCQ).” Journal Of Occupational Health          Psychology 3:322:355

Lang P.J & Bradley,M.1994.” Measuring Emotion: The Self -ASsessment Manikin and                    The Semantic Differntial.Journal Behavior Therapy & Experience Psychitry                        25:49-59

London,H.B., Wiseman ,N.B.2003.Pastors at Greater Risk.california: Regal Book.

Maslach,C., Schaufeli,W . & Marek 1993. Profesional Burnout:Recent Develovment in                  Theory and Research Washington: Taylir & Francis

Maslach,C., Leiter,M.P.1997. The Truth About Burnout: Hiw Organization Cause                            Personal Stress and what to do Abaout it. San Fransisco: Jossey-Bass                                               Publiher.

_____________2008”Early Predictors of Job burnout and engagement.” Jurnal of Applied Psychology 3:498-512.

Pargament, K.I.& Cumming.J.P.2010.”Medicin for the Spirit: Religious Coping in                             Individual with Medical Condition. Religious Journal 1: 28-53.

Reggio, R.E. 2009. Introduction to Industrial/Organization Psychology. New Jersey: Pearson Education.

Riduwan & Akdon.2010. Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta

Schwarzer,R. & Buchwald, P.2000. “Social support.” Encyclopedia of Applied Psychology: 435-441.

Shirom, A., Nirel,N ., & Vinokur, A.D.2006. “Overload, Autonomy and Burnout as Predictor of Physicians’ Quality of Care. Journal of Occupational Health Psychology 11: 328-342.

Shirom,A. 2009. “Epilogue: Mapping Future Research on Burnout and Health.” Stress & Health 25:375-0380.

Silva, D., Hewage, C.G., Fonseka, P.2009.”Burnout: An Emerging Occupational Health Problem. Galle Medical Journal 14 (1): 52-55

Supriyoko. 1988. Teknik Sampling. Yogyakarta: LPST Yogyakarta. Weitin, W. & A Lloyd, M. 1997. psychology Applied to Modern Life: Adjustment in the 90s. New York: Brooks/Cole Publishing Company.

 

 

Back to top