Artikel 1

BUKA MATA , BUKA HATI, LUASKAN CAKRAWALA

Purnawan Tenibemas, Ph.D

Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus

Abstrak. Merupakan suatu kewajaran ketika seseorang merasa nyaman berada di tengah-tengah kelompoknya sendiri. Bahkan masih terbilang wajar bila orang itu bangga dan membela kelompoknya. Namun, sentimen kelompok yang berlebihan dapat menghambat pelayanan lintas budaya. Artikel ini menampilkan contoh dari kisah hidup nabi yusnus yang diutus Allah ke Niniwe,Asyur. Yunus , Karena rasa rasionalismenya, tidak bersedia pergi sebab dia beranggapan Niniwe adalah ancaman bagi negara dan bangsanya. Ia tidak mengingini peduduk Niniwe bertobat dan diampuni Allah, ia lebih berkehendak Niniwe dihukum Allah. Seperti halnya nabi Yunus,umat Tuhan Perlu membuka mata,membuka hati , dan meluaskan cakrawala untuk memahami bahwa Allah juga mengasihi bangsa lain, atau kelompok lain. Umat Tuhan perlu memiliki kasih dan kepedulian untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang.

 

Kata Kunci: Tuhan,Allah pengasih dan penyayang, Tuhan sang penyelamat,sindrom Yunus , buka mata , buka hati,luaskan cakrawala.

 

PENDAHULUAN

Adalah kenyatan bahwa pada umumnya umat manusia di mana pun mempunyai kecenderungan merasa nyaman bila berada dalam kelompoknya sendiri. Sedangkan pengelompokan itu sendiri bisa terbangun karena kesamaan suku, bangsa,etnis, agama, profesi bahkan hobi. Ungkapan kekelompokan pun bukanlah hal yang tidak umum. Sebagai contoh di negara kita ungkapan kekelompokan itu seperti : wong kito dipakai oleh orang Melayu Palembang,masyarakat Batak memakai ungkapan halak kita,sedagkan orang sunda dengan ungkapan bangsa urang, dan orang minahasa menyebut kaumny dengan ungkapan kawanua. Contoh ungkapan kekelompokan di atas hanyalah sejumlah kecil yang berdasarkan suku: jumlah menjadi tidak terbilang bila menyimak ungkapan kekelompokan dari beragam latar belakang pengelompokan lainnya.

Dalam Alkitab kita bisa membaca pula Fenomena penekanan pada rasa kelompok ini,misalnya sebagimana dilaporkan dalam injil Yohanes 4:9 tentang perempuan Samaria yang memperbedakan dirinya dengan Tuhan Yesus yang disapanya sebagai orang Yahudi.

Demikian pula pada umumnya sikap orang Yahudi terhadap orang bukan Yahudi. Hal ini misalnya sebagimana disampaikan oleh Rasul Petrus terhadap Kornelius,Perwira Italia itu ( KPR 10:28)

Adalah wajar dan manusiawi bila kebanyakan orang merasa nyaman berada dengan sesama dalam kelompoknya. Namun hal ini menjadi masalah bila menganggap kelompoknyalah yang paling hebat dan kelompok lain dinilainya lebih rendah. Belum lagi sikap seperti itu bila dibumbui dengan sentimen antar kelompok atau memelihara bahwan mewariskan pula pengalaman negatif relasi antar kelompok itu. Sikap seperti itu adalah cikal bakal untuk sikap diskriminatif.Sikap seperti itu akan pula menjadi hambatan besar dalam perjumpaan atau relasi antar kelompok. Sejarah manusia telah mencatat seringnya kesatuan negara atau bangsa terobek karena sikap yang diskriminatif ini.

Lebih parah lagi bila rasa sentimen kelompok itu tetap dipelihara oleh umat Tuhan. Tidak mengherankan akibatnya dalah menghambat panggilan pelayanan lintas budaya. Rasa nasionalisme, kebangaan suku, tingkat sosial dan sejenisnya yang sempit bisa menjadi penghambat untuk pelayanan lintas budaya.

NABI YUNUS,SANG NASIONALIS

Adalah seorang nabi bernama Yunus bin Amitai yang berasal dari Israel Utara dan hidup pada jaman pemerintahan Yerobeam bin Yoas (2 Raja 14:23-25).Satu hari dipanggil TUHAN untuk pergi ke Niniwe untuk menyerukan kepada bangsa Asyur itu. Namun rasa nasionalisme sang nabi menghalanginya untuk mematuhi perintah Tuhan itu . Sang nabi lebih mengingini bangsanya, kerajaan Israel Utara tetap aman,terbebas dari kemungkinan diganggu oleh kerjaan yang berpusat di Niniwe itu. Tentu saja ia tahu sikap umum yang keras dan kejam dari kerajaan-kerajaan di Timur itu memperlakuan bangsa jajahannya.

Sebagi seorang warga kerajaan Israek Utara, ia berjuang untuk melindungi bangsa dan kerajaannya . Nabi Yunus sangat kenal TUHAN yang memanggilnya itu, TUHAN adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2).

Kapal menuju Tarsis yang terletak di barat. Tarsis yang dimaksud bukanlah Tarsis yang berada di Siria,melainkan Tarsis ( Tartessus) di Spanyol. Ia beyul-betul menjauh dari Niniwe dan sekaligus berusaha menjauh dari hadapan TUHAN (1:3)

Sikap itu adalah pengejawatan dari jiwa nasionalisnya. Pertimbangannnya tentulah penduduk Niniwe yang kejahatannya sudah TUHAN ketahui itu lebih tepat untuk dihukum dan hancur karena murka TUHAN. Ia tidak rela penduduk Niniwe itu mendengar berita pengasihan Tuhan,Yang membuka kemungkinan bagi mereka untuk sadar dan bertobat. Bila mereka bertobat TUHAN yang pengasih dan penyayang itu pasti akan mengampuni mereka. Kalau mereka diampuni TUHAN, tentu Niniwe akan bertambah jaya. Kejayaan kerajaan itu sangat berpotensi untuk melakukan expansi , itulah kekuatiran nabi Yusnus. Kerajaannya,Israel Utara akan dilanda oleh expansi Ayur dan ditaklukan serta diperlakukan dengan keras.

Rasa nasionalisme Yunus ini membuatnya siap untuk pasang badan melindungi bangsa dan kerajaannya. Ia berani melwan perintah TUHAN dan menjaduh dari Niniwe. Ia sangat mengharapkan musuh potensial itu hancur dan lenyap. Resiko pun ia ambil demi melindungi bangsa dan negaranya. Sikap nasionalisme yang picik ini telah membuatnya buta terhadap rencana penyelamatan bangsa - bangsa . Ia ibangsanya sendiri.

 

Bencana yang Membawa Berkat

Seperti keyakinan pemazmur (139 ) bahwa manusia tidak bisa kabur tanpa diketahui TUHAN; manusia tidak bisa bersembunyi dai hadapan TUHAN. Karena TUHAN adalah Maha Tahu dan Maha Hadir.

Bebal kapal membuang muatan kapal demi nyawa mereka. Rupanya mereka terdiri atas berbagai bangsa; maka mereka berseru kerpada sesembahan-sesembahan mereka masing-masing(1:5) namun juga sia-sia. Dalam kepanikannya nahkoda kapal menemui Yunus yang tidur di ruang kapal paling bawah. Yunus yang siap mati demi bangsanya , tidak peduli akan nasib kapalnya; ia pun bisa tidur nyenyak (1:5). Yunus kemudian didesak oleh nahkoda kapal untuk berseru kepada Allahnya demi keselamatan segenap penumpang kapal itu (1:6)

Saat diundi untuk mengetahui penyebab malapetaka iyu, Yunuslah yang undi. Yunus pun memperkenalkan dirinya kepada para awak kapal bahwa dirinya adalah orang ibrani yang takut akan TUHAN,pemilik dan pencipta langit ,laut dan daratan (1:9).Setelah badai itu melanda mereka karena Yunus pula. Segenap awak kapal justru sangat ketakutan dan tidak berani mencelakai Yunus;mereka berupaya mendaratkan kapalnya namun kali ini pun tetap sia-sia(1:13). Karena semua upaya penyelamatan yang mereka lakukan tidak mendatangkan hasil, setelah meminta pengampunan kepada TUHAN yang diperkenalkan Yunus,mereka melemparkan Yunus ke dalam laut yang menggelora itu. Keajaiban pun terjadi badai reda seketika . Bencana seketika berlalu. Dampaknya adalah para awak kapal memberi diri untuk percaya kepada TUHAN yang disembah Yunus(1:16).

Nasionalisme Yunus telah menjauhkannya dari kota yang seharusnya ia datangi untuk mengabarkan kabar baik bagi bagi penduduk kota itu; namun kabar baik itu terlebih dahulu dinikmati para awak kapal yang berasal dari berbagai bangsa itu. Dari sudut padang spiritual, bencana badai laut Tengah itu telah berubah menjadi berkat bagi para awak kapal itu. Mereka mengenal TUHAN,sang penyelamat yang datang di balik badai itu. Sekalipun dalam posisi tidak taat, Yunus sebagai hamba TUHAN tetap bisa menjafi pembawa berkat. Kita pun belajar bahwa TUHAN memang peduli kepada bangsa-bangsa lain.

 

Bencana Yang Memperbaharui

Yunus, sang nasionalis tulen itu harus mengalami pengalaman antara hidup dan mati di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam (1:17)

Dalam bentuk mazmur ( Pasal 2 ),ia melukiskan pengalaman yang menyesakan itu sebagai berada di dunia orang mati,Sheol (2:2). Saya meyakini bahwa pengalaman yang dialami Yunus ini adalah pengalaman nyata bukan sekedar fiksi ataupun alegori. Tuhan Yesuspun memakai pengalaman Yunus ini sebagai analogi untuk pengalamannya di kubur setelah kematiannya di atas kayu salib ( Mat 12:39-41)

Ungkapan doa yang disampaikan Yunus saat berada di dalam perut ikan kepada TUHAN adalah ungkapan pertobatan atas pemerontakannya. Tanpa pertobatan tidak ada harapan untuknya bisa lepas dari dunia orang mati itu. Ia terperangkap dalam perut ikan itu, terbalut oleh rumput laut, dalam kuyup. Gelap pula dan tidak melihat jalan keluar dari perut ikan itu. Doa pertobatan adalah harapan satu-satunya bagi Yunus yang bisa ia lakukan. Dalam kegawatan bencana itu ia tidak kehilangan keyakinannya akan TUHAN yang pengasih dan penyayang yang pandang sabar dan setia itu. Yunus berseru , Yunus bertobat dan doanya itu bersambut.

Tuhan kembalikan Yunus ke dunia orang hidup. Pengalaman yang menyesakan ini telah membawanya untuik berserah kepada TUHAN yang memanggilnya. Pembaruan hatinya pun terjadi; sangat mungkin ia bernazar untuk tidak lagi melarikan diri dari panggilan Tuhan. Yunus pun siap untuk pergi ke NIniwe (2:9). Inilah pengalaman puncak Yunus dengan TUHAN. Pengalaman itu telah memaksanya untuk menanti perintah TUHAN,pergi ke Niniwie.

 

 

NASIONALISME YANG TIDAK SIRNA

Yunus diberi peluang kedua untuk menjadi penyalur berkat bagi penduduk Niniwie(3:1,2). Secara jasmaniah Yunus melangkah memenuhi perintah TUHAN, namun secara batin ia masih dipenuhi pergumulan,ketidakrelaannya melihat Niniwe bertobat masih kuat.Kotbahnya pun disampaikan dengan tanpa mengharapkan terjadi pertobatan dari para pendengarnya. Bahkan kotbahnya itu bisa digolongkan sebagi berita penghukuman : “ Empat puluh hari lagi,maka Niniwe akan ditunggangbalikan .”(3:4).

Namun diluar dugaan Yunus ,penduduk Niniwe memeberi respon positif,mereka bertobat . Penduduk Niniwe percaya kepada Allah yang disampaikan oleh Yunus. Bahkan Raja ( Mungki Raja Ashurdan III, 773-755) mengelurakan dekrit pertobatan dan perkabungan nasional, puasa pun harus dilakukan bukan hanya untuk manusia melainkan hewan peliharaan juga. Hal itu termasuk mengenakan kain kabung sebagi wujud nyata dari pertiobatan mereka (3,7,8). Rupanya hati mereka sudaj disiapkan. Pada tahun 765 dan 759 SK wabah melanda Niniwe dan pada tahun 763 SK terjadi gerhana matahari (Wilinson dan Boa 1983-257). Maka saat Yunus menyampaikan akan datangnya becana dalam 40 hari;mereka meresponnya dengan serius. Sangat mungkin mereka masih trauma dengan wabah-wabah sebelumnya dan gerhana matahari yang dalam masyarakat tradisional sampai hari ini pun masih ditafsirkan sebagai penanda bencana. Adalah sangat masuk akal mereka bertobat , setelah mendengar berita penghukuman yang akan datang itu. Allah yang dikenal Yunus sebagai Allah yang pengasih dan penyanyang serta panjang sabar dan setia itu membatalkan rancangan bencananya untuk Niniwe(3:10).

Pemberita kabar baik mana yang tidak bersukacita menyaksikan beritanya mendapat tanggapan positif, apalagi segenap penduduk kota besar itu bertobat? Mungkin hanya Yunus yang tidak bersukacita walau beritanya bersambut tidak bertobat. Ia lebih mengharapkan penduduk Niniwe dilanda bencana. Jiwa nasionalismenya tetap berjuang untuk melindungi negaranya. Dari ancaman negara yang berpotensi jadi musuh dan penakluknya itu.

Jiwa nasionalisme yang mencintai dan sangat loyal terhadap bangsanya adalah sikap yang patut dipuji namun bila sikap terserbut menjadi penutup aliran kasih TUHAN, orang tersebut menjadi picik.

Loyalitas tertinggi bagi seorang hamba TUHAN adalah TUHAN-nya.

Hal keresahannya serta menimbang keamanan bagi bangsanya adalah hal yang manusiawi bahkan dalam konteks tertentu menjadi hal yang wajib,namun loyalitas tertingginya haruslah kepada TUHAN.

Batalnya bencana atas Niniwe itu sangat mengesalkan hati Yunus. Yunus pun berani ungkapkan kemarahannya kepada TUHAN sekali lagi ia pasang badan dengan memberi tantangan kepada TUHAN.Seakan Yunus berkata:”Pilih aku atau Niniwe?” Kalau TUHAN selamatkan Niniwe , cabutlah nyawaku” (4:3). Tuhan hanya mengajak Yunus untuk menimbang.” Layakkah engkau marah.” (4:4)

Yunus masih berharap TUHAN mendengar kegundahan hatiya, Ia pergi ke Timur kota itu, rupanya dari ketinggian lokasi itu ia membangun pondok kecil. Ia duduk di sana menanti apa yang akan terjadi atas kota besar itu (4:5).Apa yang diharapkan Yunus? Bisa jadi Yunus mengharpkan hujan belerang dan api dari langit turun menghancurkan Niniwe, seperti saat sodom dan Gomora dimusnahkan TUHAN ( kej 19:24,25)

TUHAN membesarkan hati Yunus dengan menumbuhkan sebatang pohon jarak sebagai peneduh. Yunus sangat senang dengan tumbuhnya jarak peneduh itu. Namun keesokan harinya saat pohon jarak itu layu, serta angin panas menerpa Yunus. Yunus pun tidak berdaya gagal; ia pun lebih memilih mati. Bahlan saat Allah mempertanyakan kemarahannya itu, ia tegas nyatakan bahwa kematian adalah pilihannya karena TUHAN tidak merestui perjuangannya itu(4:8,9)

Allah memulai memakai pohon jarak sebagai perbandingan dnegan penduduk Niniwe. Allah mulai mengajak Yunus untuk membuka matanya, agar ia terbuka menyaksikan kenyatan bahwa penduduk Niniwe berseru kepada Allah dan bertobat. Hati Yunus diajaknya untuk terbuka dan menaruh belas kasihan kepada penduduk yang terbilang banyak. Allah menyatakan alasan kasihnya kepada penduduk Niniwe yang dinyatakan bahwa ada 120.000 orang yang tidak tahu membedakan tangan kanana dan tangan kiri . Ha itu saya menafsirkannya sebagi para balita. Bisa jadi kota itu berpenduduk minimal 500.000 orang. Penduduk sebesar itu dengan pimpinan rajanya telah melakukan hari perkabungan dan memohon belas kasih Allah. Yunus pun ditantang untuk meluaskan cakrawala padangnya, Tidak cukup hanya mengasihi bangsanya sendiri; kasihi juga bagsa Niniwe,apalagi Niniwe saat itu menyatakan keseriusan pertobatan mereka. Yunus ditantang untuk tidak lagi bersikap picik karena nasionalisme sempitnya. Yunus harus membuka mata ,membuka hati dan meluaskan cakrawalanya.

 

TUHAN PEDULU BANGSA-BANGSA LAIN JUGA

Bukanlah kali ini saja TUHAN menunjukan kepeduliannya terhadap bangsa-bangsa buka Israel. Bhakan janji pemulihan yang diterima leluhur manusia sesaat setelah kejatuhan mereka ke dalam dosa,yaitu janji kelahiran seorang keturunan perempuan( Kej 3:15 ) bersifat universal.Janji yang di kenal sebagai protoevangelium itu disebut oleh George Pieters sebagai bintang fajar di tengah gelapnya kehidupan manusia, adalah janji yang bersifat universal (1981:85). Bersifat universal sebab jani itu disampaikan berkaitan dengan leluhur segenap umat manusia.

Kepedulian Allah kepada segenap manusia dipertegas saat pemanggilian Abram ( kej 12:1-3). Janji yang saya sebut sebagai Praamanat agung ( Tenibemas 2011,13) ini jelas menyatakan kepedulian Allah kepada segenap manusia . Apalagi pasal sepuluh dari kitab kejadian itu menderetkan daftar bangsa-bangsa yang menjadi cikal bakal penyebaran bangsa-bangsa hingga saat ini. Hal itu menunjukan bahwa Alla tidak pernah tidak mempedulikan bangsa-bangsa ini . Adalah sebenarnya Allah tidak pernah tidak peduli terhadap bangsa-bangsa di dunia ini. Pemilihan Abram yang kemudian menjadi Abraham yang melahirkan bangsa Israel tidaklah meniadakan kepedulian Allah kepada bangsa-bangsa bukan Israel. Adalah tepat yang ditulis oleh Verkuyl bahwa israel adalah Pars pro toto, minoritas yang dipanggil untuk melayani mayoritas ( 1978,92).

Kepedulian Allah terhadap bangsa-bangsa selain Israel bisa terus kita telusuri sepanjang sejarah kudus yang dicatat dalam perjanjian lama. Misalnya secara sangat ringkas seperti halnya seberkas cahaya yang melintas, dari kitab-kitab Sejarah misalnya dari kitab I Tawarikh 16 yang mengajak untuk memperkenalkan TUHAN kepada bangsa-bangsa (ay 8). Segenap bumi diajaknya untuk memuji TUHAN ( ay 23 ) dan segala bangsa harus diberi peluang mendengar tentang kemuliaan dan perbuatan TUHAN (ay 24 ). Segala bangsa harus tahu bahwa Tuhan itu Raja (ay31).

Dari kesimpulan kitab Syair , saya pilih misalnya dari kitab Mazmur. Mazmur 67 berisi nyanyian pengharapan agar segala bangsa mengenal keselamatan dari Allah (ay 3 ). Segala bangsa bahkan suku bangsa diharapkan bersyukur kepada Allah (ay 4-6). Dalam Mazmur 87 dikatakan bahwa TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa (ay 6). Betapa TUHAN peduli kepada segala bangsa.

Dari kitab para Nabi, saya ambil contoh dari kitab Nabi Yesaya.Pada pasal ke 11 saat menubuatkan tentang Sang Raja Damai yang berasal dari pangkal Isai, Yesaya menulis Raja Damai itu juga bagi bangsa-bangsa (ay 10). Dalam pasal 25 kitab Nabi Yesaya menuliskan tentang perjamuan bagi bangsa-bangsa dan akan terakatnya kain kabung yang menudungi bangsa-bangsa itu (ay 6,7). Pasal 49 terutama ayat 6 jelas peran pars pro toto Israel ditonjolkan. Israel menjadi ternag bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada TUHAN itu sampai ke ujung bumi. Dalam pasal 55 ada ajakan kepada bangsa-bangsa untuk ikut menikmati keselamatan dari TUHAN terutama ayat 4,5 dari pasal ini. Inilah gambaran ringkas  Pars Pro totoI itu.

 

SINDROM YUNUS

TUHAN memakai kitab suci Nabi YUNUS untuk membuka mata, membuka hati dan meluaskan cakrawala bangsa Israel yang kurang bahkan tidak peduli akan bangsa-bangsa lain. Dalam hal ini pandanganyya jelas tertampilkan pada sikap Yunus. Sedangkan Allah tidak pernah tidak peduli kepada bangsa-bangsa lain. TUHAN adalah TUHAN untuk segenap manusia dan bangsa Israel sebagi turunan dari Abraham seharusnya menjadi fungsi Pars Pro toto itu;namun mereka telaj gagal. Verkuly menyatakan  bahwa kitab suci Yunus sangat kuat melawan sifat etnosenrisme yang menyabot rencana universal Allah(1978,97). Hal serupa bisa terjadi juga kepada gereja masa kini yang dengan berbagai alasam tidak lagi menjalankan Amanat Agung kepada segala bangsa; sentimen kekelompokam bisa menjadi salah satu penghalangnya.

Dalam Konteks yang lebih sempit, sayang mengajak anda untuk bercermin dari pengalaman YUNUS di atas, Adalah wajar bahkan tidak bisa tidak sebagai orang percaya kita mengasihi Gereja TUHAN. Lebih konkrit lagi gereja-gereja yang didalamya kita hadir dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan . Bisa jadi TUHAN memberi kepercayaan kepada sebagian dari kita untuk menggembalakan satu gereja dalam satu denominasi. Yang lain merintis dan mengembangkan satu gereja lokal. Atau mungkim berperan sebagai pendukung dari kehadiran gerja-gereja itu dalam konteks geografis tertentu. Rasa memiliki dan rasa kesatuan keumatan pun bisa jadi hadir secara kuat dalam diri kita . Kepedulian dan mengasihi saudara seiman adalah suatu kewajaran bahkan keharusan(1 Yoh 4:7,11,21).

Saat mendengar bahwa sekelompok orang kristen teraniya adalah wajar bila turut prihatin,sedih ataupun kecewa . Bisa jadi pula marah,bahkan ada juga yang mengutuki atau berdoa agar TUHAN membalas kepada para penganiaya saudara-saudara kita itu, saat tempat ibadahnya dirusak , dibongkar apalagi dibakar habis, hati pun pedih, marah seraya bertanya-tanya mengapa pemerintah membiarkannya?

Adalah kenyataan bahwa negara kita sudah ribuan tempat ibadah kristen dengan beragam alasan dan sebab yang ditutup,dirusak,bahkan dibakar. Adalah kenyataan bahwa alasan dan sebab penutupan atau perusakan itu tidak dikenakan kepada golongan keyakinan lain. Adalah kenyataan pula bahwa sikap permusuhan kebencian dan penganiyaan terhadap orang percaya kepada Kristus ini terjadi di sangat banyak tempat di dunia ini. Sekalipun dalam pengelompokan keagamaan,penganut Kristen itu terbilang mayoritas yaitu 33% dari total penduduk dunia, namun kenyataannya orang-orang Kristen banyak kali harus mengalami penganiyaan ini.

Awal tahun 2015 lalu Open Doors,satu organisasi gerejawi yang memberi perhatian atas penderitaan dan memberi bantuan terhadap orang kristen yang menderita aniaya di dunia ini menerbitkan 2016 Hanbook of Prayer. Dalam buku kecil itu didaftarkan 50 negara di dunia yang tergolong pada negara tempat ibadahnya kepada kristus. Yang bertengger pada nomor satu dari daftar negara-negara itu adalah negara berpaham komunisme yaitu Kore Utara. Namun mayoritas penduduknya Musilim.

Bercemin dari pengalaman Yunus adalah munhkin banyak diantara orang Kristen yang memiliki rasa tidak suka ,marah, atau membenci kepada kelompok yang memushi atau mempersulit bahkan mengainiaya orang Kristen itu. Dalam ketidakberdayaannya bisa juga mengambil langkah tiarap, Tidak jarang pula yang tidak peduli kepada kelompok bukan kristen itu.Kesaksian Kristen pun menjadi pudar.

Sindrom “nasionalisme” Yunus bisa jadi merasuki banyak dari kita dan kita justru cenderung seperti Yunus untuk”berjuang” mencari perlindungan bagi kaum Kristen dengan mengarapkan kelompok yang memusuhi,apalagi menganiaya kaum Kristen di pukul TUHAN seriing dilupakan bahwa TUHAN Yesus dalam kotbahnya di atas bukit sebagaimana dilaporkan oleh Matius, di antaranya mengajak pendengarnya untuk membuka hati mengasihi orang-orang yang memusuhinya, bahkan mendoakan orang yang menganiaya(mat 5:43,44). Sikap yang diajarkan Tuhan Yesus itu bila dilaksanakan akan menjadi pembeda antara orang Kristen dengan kelompok lain ( Mat 5:45-47).

Banyak kasus pula saat orang kristen memberi bantuan atau melalukan pelayanan sosial kepada tetangga sekitarnya,niatnya adalah mengharapkan perlindungan kepada diri atau gerejanya. Dasar dari sikap ini adalah rasa takut akan ajdi sasaran permusuhan atau perusakan terhadap harta milik orang kristen. Karena ketidakberdayaan untuk melindungi diri maka berharap dengan memberi bantuan, bisa menerima perlindungan dari para penerima bantuan itu. Belum tentu sikap atau tindakan seperti ini terbilang bantuan itu. Belum tentu sikap atau tindakan seperti ini terbilang salah. Namun motivasi yang lebih baik saat lita membagikan bantuan sosial itu adalah segolongan dengan mereka yang membenci kaum Kristen. Bukankah Tuhan Yesus pun mengajarkan untuk mengasihi mereka yang memusuhi ?

Berkaitan dengan Amanat Agung,gereja Kristen harus menaatinya,Karena TUHAN tidak menghendaki seorangpun binasa(2 Pet 3:9). Tuhan Yesus telah menyampaikan amanat itu kepada para pelaksana amanat-Nya itu. Amanat merupakan berita tentang pertobatam dan pengampunan dosa ini harus diberitakan kepada segala bangsa (Luk 24:47). Tentu termasuk kepada kaum sebagiannya memusuhi orang percaya ini, Kaum muslimin pun jangan ditimbang sebagai musuh,walau banyak dari mereka yang memusuhi,mempersulit bahkan menganiaya kaum Kristen . Sudah lebih dari seribu gedung gereja dan tempat ibadah di Nusantara ini yang mereka tutup, rusak bahkan dibakarnya sejak dekade terakhir abad lalu.Namun mereka tetap patut dikasihi dan berhak pula untuk mendengar kabar baik.

Adalah tantangan bagi kita untuk menguji diri,apakah kita telah dihinggapi sindrom “nasionalisme” Yunus? Berapa parah? TUHAN telah mengajak Yunus untuk menghayati Kasih-Nya kepada penduduk Niniwie itu dengan menantangnya untuk membuka mata , membuka hati dan meluaskan cakrawala. Bisa jadi kita pun harus menghayati hal serupa.

Daftar Pustaka

Open Door.2015.2015 Handbook Of Prayer.Malaysia: Odmal Services Berhard.

Peter,George W. 1981.A bilbical Theology Of Mission,Chicago: The Moody Bible Instute

Tenibemas,Purnawan.2011.Misi Yang Membumi.Bandung Sekolah Alkitab Tiranus

Verkuly.J. 1978.Contemporary Missiology,An Introduction. Grand Rapids,Michigan:William B.Erdmans Publishing Compani.

Willinson,Bruce dan Kenneth Boa,1983.Talk Thru the Bible.Nasville,Camden.Kansas

City:Thomas Melson Publishers

 

Back to top