bootstrap website templates

Dari Kantor Ketua

Cihanjuang, November 2018
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus!
Sahabat Tiranus yang saya kasihi,

Bulan Oktober lalu sebuah gereja meminta saya berkotbah pada Minggu sore. Perikopnya ditetapkan, yaitu Markus 12:38-44. Namun, tema kotbah tidak dikemukakan. Kata pendeta di gereja itu otoritas diberikan kepada yang berkotbah. Jelas hal itu bukan pekerjaan mudah walaupun saya senang. Sebab, perikop itu adalah kisah mengenai pribadi Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia (Mrk. 1:1). Sedari dulu saya selalu gembira menuntun jemaat belajar tentang Sang Juruselamat.
 Setelah melalui penyelidikan dan perenungan, maka judul kotbah yang saya sampaikan ialah “Yang Caci dan Yang Dipuji.” Perikop pertama (Mrk. 12:38-40) saya lihat berisi kritikan pedas bahkan cacian Kristus atas perilaku tokoh agama Yahudi yakni ahli-ahli Taurat. Perikop kedua (Mrk. 12:41-44) saya perhatikan memuat pujian Sang Guru tentang hati mulia seorang janda. Kedua perikop itu bertolak belakang. Kontras.
 Injil Markus ingin menegaskan bahwa Tuhan Yesus yang penuh belas kasih (Mrk. 1:41; 8:2) adalah Guru yang cerdas, jujur dan tegas (Mrk. 12:14, 34). Dialah pula Hakim penilai perilaku orang berstatus tinggi dan bergengsi, serta orang berkedudukan rendah atau marginal. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia datang ke dunia untuk menghakimi, supaya mereka yang merasa melihat tidak melihat dan yang tidak melihat jadi melihat (Yoh. 9:35).
 Perikop pertama (Mrk. 12:38-40) mengajari saya bagaimana Tuhan menyingkapkan capaian-capaian ahli-ahli Taurat. Mereka digambarkan suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan. Daftar prestasi hebat..! Walau demikian, Tuhan berterus terang menyatakan moral mereka yang buruk. Ditegaskan, mereka itu menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang.
 Perikop kedua (Mrk. 12:41-44) menyingkapkan kelemahan seorang janda miskin “yang mungkin saja” korban pemerasan oleh ahli Taurat. Namun, batinnya bebas dari rasa minder. Tak malu dengan penampilannya yang jauh di bawah sederhana, ia datang ke ruang perbedaharaan Bait Allah untuk memberi persembahan tidak banyak, yakni “dua peser yaitu satu duit.” Jumlah persembahan perempuan itu terlalu kecil. Janda yang tak disebut namanya itu datang dengan kekurangan.
 Dua perikop itu memberi pelajaran berharga bagi saya. Pertama, jika orang sudah berstatus tinggi, cerdas, berpengetahuan, dihormati banyak orang, karakternya harus mulia. Tak patut memandang rendah mereka yang di bawah kedudukan dan kemampuannya. Tak pula patut mereka memeras sesamanya agar memberi keuntungan. Aneh juga jika para intelektual mencari keuntungan dengan memiskinkan orang lain. Misalnya, tampak irasional bila ada dosen memeras kantong mahasiswa dengan imbalan nilai dan kelulusan studi secara mudah.
 Kedua, saya belajar bahwa walau kita belum beruntung secara ekonomi, dan berstatus terpinggirkan di hadapan banyak orang atau golongan tertentu, namun niat hati untuk memuliakan Allah dengan kekurangan diri tidak harus padam. Wanita miskin itu mengajari kita tentang arti mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan. Perempuan itu memberi teladan bergantung kepada Allah. Ia tahu bahwa Allah tidak akan membuatnya mati kelaparan setelah mempersembahkan seluruh miliknya. Saya simak ia mempraktikkan perkataan Yesus, Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerjaan Sorga (Mat. 5:3).
 Sesuai kehendak Tuhan Yesus, STA Tiranus berupaya menghasilkan pemberi Injil yang setia, cendekia dan berhati mulia. Dosen dan mahasiswa belajar menjadi hamba-hamba Tuhan yang cerdas namun memperkaya spiritualitas dan moral sesamanya. Maka, terima kasih kami ucapkan kepada Bapak/Ibu/Saudara yang selama ini mendukung pekerjaan-Nya di kampus.
 Mengakhiri paparan di atas, saya mengajak Bapak/Ibu dan Saudara untuk bersyukur atas tiga perkara berikut:
 1. Dalam semester Ganjil 2018/2019 ini sejumlah 102 mahasiswa yang belajar di kampus. Kegiatan studi mereka akan berakhir dengan ujian akhir semester (UAS) pada minggu pertama Desember. Perayaan Natal komunitas Tiranus diadakan pada hari Sabtu, 8 Desember 2018.
 2. Tuhan memperkenankan tim pelayanan dari Tiranus menguatkan saudara-saudara seiman yang ditimpa masalah berat di Palu dan Donggala.
 3. Kegiatan studi Pak Sidjabat di sebuah perguruan tinggi teologi di Sydney sudah berlangsung baik. Bapak dan Ibu Sidjabat akan kembali ke kampus pada tanggal 26 November 2018.
 Akhirnya, kami mengajak Bapak/Ibu dan saudara menaikkan doa dan permohonan kepada Allah, atas beberapa keperluan berikut:
 1. Mahasiswa program studi Sarjana dan Magister, yang menulis karya ilmiah, agar mengikuti dapat ujian pada bulan Desember. Kita memohon hikmat dan kekuatan pula bagi para dosen yang memberi bimbingan kepada mahasiswa.
 2. Sejumlah 22 mahasiswa program studi Sarjana kini tengah menjalankan tugas praktik lapangan, agar menikmati kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan memberitakan kebenaran-Nya.
 3. Pencukupan dana operasional berjumlah Rp. 250 juta per bulan. Seraya bersyukur kita juga berdoa untuk defisit dana keseluruhan hingga bulan Oktober ini sebesar Rp. 158 juta (???).
 4. Biaya perbaikan tembok kampus sepanjang 59 meter sebesar Rp. 150 juta, dan dana abadi Tiranus paling sedikit 2 M.
 5. Ibu Adelaide Heath, agar tetap menikmati kasih karunia Tuhan Yesus pada masa lanjut usianya.
 6. Supaya penyelesaian disertasi PhD dari Bapak Raskita Barus di Seoul, membuahkan hasil yang diharapkan di akhir 2018 ini.
 7. Kiranya anugerah dan kebenaran Allah menuntun suasana dan para juru kampanye bagi pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta pemilihan presiden dan wakilnya, pada tahun 2019.
 Demikianlah berita yang dapat kami sampaikan. Terpujilah Kristus Tuhan kita!
Salam dan doa,
Dr. Binsen S. Sidjabat 
NIDN 2312035701