portfolio site templates

Dari Kantor Ketua

Cihanjuang, Oktober 2018
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus!
Sahabat Tiranus yang saya kasihi,

Yang tersisihkan, yang dikasihi! Itu tema renungan yang diminta sebuah gereja untuk saya tulis di bagian depan Warta Jemaat di akhir Oktober ini. Teks yang diberikan kepada saya ialah Markus 10:45-52. Itu memuat cerita perjumpaan Tuhan Yesus dengan seorang pria tunanetra di jalan menuju Yerikho.
 Banyak pelajaran berharga tersingkap bagi saya dari kisah itu. Markus, penulis Injil, yang pernah disisihkan Paulus karena dinilai tak bertanggung jawab pada perjalanan misi pertama (Kis. 15:35-41), mungkin merasa penting menuliskan perikop itu. Kepahitan batin Markus rupanya telah pulih karena Yesus, yang ajaran dan perbuatan-Nya didengar dari sang paman, rasul Petrus. Artinya pengenalan Markus kepada Anak Allah itu (Mrk. 1:1) bertumbuh lewat pendengaran.
 Sekarang, kembali kepada perjumpaan Bartimeus dengan Tuhan Yesus. Kejadian itu di Yerikho, daerah bersuhu panas, karena di bawah permukaan laut. Pada waktu itu Yesus bersama rombongan murid mengunjungi kota tersebut. Entah apalah sebabnya. Namun, dituliskan, saat di jalan keluar dari kota itu, seorang tunanatera yang namanya disebut “anak Timeus” (Bartimeus), menghadang Yesus, minta perbaikan nasib!
 Di antara banyak pengemis yang duduk di jalan, dan di tengah orang banyak berbondong-bondong, lelaki yang mungkin tak diberi nama sejak lahir itu berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah ku!” (47). Seruan nyaring itu berulang kali diteriakkan. Namun, karena lazimnya pengemis dianggap “sampah masyarakat” maka banyak orang menyuruhnya diam (48).
 Uniknya, lelaki yang sadar terpinggirkan itu tetap gigih. Seruannya terus berkumandang. Hal itu menghentikan langkah Sang Guru. Ia suruh orang memanggilnya. Jadi, orang mulai ajak dia bicara. Karena semangat, Bartimeus, tanpa jubah segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus (50). Saya suka dengan gerakan yang dituliskan Markus itu! Ada iman yang hidup dalam diri seorang yang berstatus sosial rendah!
 Kemudian, saya lihat sebuah tindakan mengagumkan. Tuhan Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (51). Apa Tuhan tak tahu kebutuhan Bartimeus? Pasti tahulah (Yoh. 2:24-25). Tapi, Ia harus buat Bartimeus bicara, karena selama ini didiamkan orang meski dapat recehan mereka. Isi hatinya harus didengar banyak orang. Tindakan itu menyembuhkan rasa dan karsanya.
 Pria Nazareth itu mengabulkan pinta Bartimeus. Dasarnya apa? Iman. Percaya. Kata-Nya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (52). Tiada dusta pada Yesus. Bartimeus dapatkan penglihatan dari Sang Pencipta (Yoh. 1:3). Nah, untuk apa permohonan itu dikabulkan? Markus menuliskan, “...lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (52). Bukan agar langsung cari pacar untuk dinikahi.
 Hati saya gembira melihat orang tersisih, dikasihi oleh Yang Mahakasih (Yoh. 3:16; 15:9-10). Orang lain seperti itu ada lagi dalam kisah Markus. Wanita Kanaan tersungkur di depan Yesus, mohon kesembuhan puterinya (Mrk. 7:24-30). Wanita yang duabelas tahun sakit pendarahan dan telah habis hartanya untuk berobat, jamah jumbai jubah Yesus (Mrk. 5:25-34). Seorang kusta yang dijauhi masyarakat, berani minta belas kasih-Nya (Mrk.1:40-45). Banyak lagi…!
 Sesuai kehendak Kristus, STA Tiranus bekerja menghasilkan lulusan penyandang Sarjana dan Magister Teologi, yang dijamah oleh kasih Tuhan Yesus. Kasih yang dihadirkan Roh Kudus (Rm. 5:5) memotivasi mereka belajar Alkitab. Masa studi pun jadi kesukaan. Bukan beban. Kasih-Nya dihayati, dibagikan dalam pemberitaan Inji, pengajaran dan kotbah, atau melalui seni dan tulisan-tulisan kreatif. Maka, terima kasih kami ucapkan kepada Bapak/Ibu/Saudara yang selama ini mendukung pekerjaan-Nya di kampus.
 Mengakhiri paparan di atas, saya mengajak Bapak/Ibu dan Saudara untuk bersyukur atas tiga perkara berikut:
 1. Dalam semester Ganjil 2018/2019 ini sejumlah 102 mahasiswa yang belajar di kampus, dan lebih dari 59 mahasiswa belajar di luar kampus.
 2. Pekan kerohanian komunitas Tiranus pada 8-13 Oktober, membuahkan formasi dan transformasi jiwa kepemimpinan dan pelayanan kepada anak, pada diri mahasiswa.
 3. Belasan dosen beroleh berkat finansial dari Tuhan melalui tunjangan sertifikasi dosen (serdos), sehingga dapat berbagi dengan tenaga kependidikan serta dosen-dosen lainnya.
 Akhirnya, kami mengajak Bapak/Ibu dan saudara menaikkan doa dan permohonan kepada Allah, atas beberapa keperluan berikut:
 1. Mahasiswa program studi Sarjana dan Magister, yang menulis karya ilmiah, agar mengikuti dapat ujian pada bulan Desember. Kita memohon hikmat dan kekuatan pula bagi para dosen yang memberi bimbingan kepada mahasiswa.
 2. Sejumlah 22 mahasiswa program studi Sarjana kini tengah menjalankan tugas praktik lapangan, agar menikmati kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan memberitakan kebenaran-Nya.
 3. Pencukupan dana operasional berjumlah Rp. 250 juta per bulan. Seraya bersyukur kita juga berdoa untuk defisit dana keseluruhan hingga bulan Oktober ini sebesar Rp. 158 juta.
 4. Biaya perbaikan tembok kampus sepanjang 59 meter sebesar Rp. 150 juta, dan dana abadi Tiranus paling sedikit 2 M.
 5. Ibu Adelaide Heath, agar tetap menikmati kasih karunia Tuhan Yesus pada masa lanjut usianya.
 6. Supaya penyelesaian disertasi PhD dari Bapak Raskita Barus di Seoul, membuahkan hasil yang diharapkan di akhir 2018 ini.
 7. Kiranya anugerah dan kebenaran Allah menuntun suasana dan para juru kampanye bagi pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta pemilihan presiden dan wakilnya, pada tahun 2019.
 Demikianlah berita yang dapat kami sampaikan. Terpujilah Kristus Tuhan kita!
Salam dan doa,
Dr. Binsen S. Sidjabat 
NIDN 2312035701