{"id":1986,"date":"2020-02-29T13:36:49","date_gmt":"2020-02-29T06:36:49","guid":{"rendered":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/?p=1986"},"modified":"2021-05-18T09:44:51","modified_gmt":"2021-05-18T02:44:51","slug":"buka-mata-buka-hati-luaskan-cakrawala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/buka-mata-buka-hati-luaskan-cakrawala\/","title":{"rendered":"BUKA MATA , BUKA HATI, LUASKAN CAKRAWALA"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Penulis: <a href=\"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/akademik\/dosen\/purnawantenibemas\/\">Purnawan Tenibemas, Ph.D<\/a><br>Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Abstrak. Merupakan suatu kewajaran ketika\nseseorang merasa nyaman berada di tengah-tengah kelompoknya sendiri. Bahkan\nmasih terbilang wajar bila orang itu bangga dan membela kelompoknya. Namun,\nsentimen kelompok yang berlebihan dapat menghambat pelayanan lintas budaya.\nArtikel ini menampilkan contoh dari kisah hidup nabi yusnus yang diutus Allah\nke Niniwe,Asyur. Yunus , Karena rasa rasionalismenya, tidak bersedia pergi\nsebab dia beranggapan Niniwe adalah ancaman bagi negara dan bangsanya. Ia tidak\nmengingini peduduk Niniwe bertobat dan diampuni Allah, ia lebih berkehendak\nNiniwe dihukum Allah. Seperti halnya nabi Yunus,umat Tuhan Perlu membuka\nmata,membuka hati , dan meluaskan cakrawala untuk memahami bahwa Allah juga\nmengasihi bangsa lain, atau kelompok lain. Umat Tuhan perlu memiliki kasih dan\nkepedulian untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata Kunci: Tuhan,Allah pengasih dan penyayang,\nTuhan sang penyelamat,sindrom Yunus , buka mata , buka hati,luaskan cakrawala.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Adalah kenyatan bahwa pada umumnya umat manusia\ndi mana pun mempunyai kecenderungan merasa nyaman bila berada dalam kelompoknya\nsendiri. Sedangkan pengelompokan itu sendiri bisa terbangun karena kesamaan\nsuku, bangsa,etnis, agama, profesi bahkan hobi. Ungkapan kekelompokan pun\nbukanlah hal yang tidak umum. Sebagai contoh di negara kita ungkapan\nkekelompokan itu seperti : wong kito dipakai oleh orang Melayu\nPalembang,masyarakat Batak memakai ungkapan halak kita,sedagkan orang sunda\ndengan ungkapan bangsa urang, dan orang minahasa menyebut kaumny dengan\nungkapan kawanua. Contoh ungkapan kekelompokan di atas hanyalah sejumlah kecil\nyang berdasarkan suku: jumlah menjadi tidak terbilang bila menyimak ungkapan\nkekelompokan dari beragam latar belakang pengelompokan lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Alkitab kita bisa membaca pula Fenomena\npenekanan pada rasa kelompok ini,misalnya sebagimana dilaporkan dalam injil\nYohanes 4:9 tentang perempuan Samaria yang memperbedakan dirinya dengan Tuhan\nYesus yang disapanya sebagai orang Yahudi.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian pula pada umumnya sikap orang Yahudi\nterhadap orang bukan Yahudi. Hal ini misalnya sebagimana disampaikan oleh Rasul\nPetrus terhadap Kornelius,Perwira Italia itu ( KPR 10:28)<\/p>\n\n\n\n<p>Adalah wajar dan manusiawi bila kebanyakan orang\nmerasa nyaman berada dengan sesama dalam kelompoknya. Namun hal ini menjadi\nmasalah bila menganggap kelompoknyalah yang paling hebat dan kelompok lain\ndinilainya lebih rendah. Belum lagi sikap seperti itu bila dibumbui dengan\nsentimen antar kelompok atau memelihara bahwan mewariskan pula pengalaman\nnegatif relasi antar kelompok itu. Sikap seperti itu adalah cikal bakal untuk\nsikap diskriminatif.Sikap seperti itu akan pula menjadi hambatan besar dalam\nperjumpaan atau relasi antar kelompok. Sejarah manusia telah mencatat seringnya\nkesatuan negara atau bangsa terobek karena sikap yang diskriminatif ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih parah lagi bila rasa sentimen kelompok itu\ntetap dipelihara oleh umat Tuhan. Tidak mengherankan akibatnya dalah menghambat\npanggilan pelayanan lintas budaya. Rasa nasionalisme, kebangaan suku, tingkat\nsosial dan sejenisnya yang sempit bisa menjadi penghambat untuk pelayanan\nlintas budaya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>NABI YUNUS,SANG NASIONALIS<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Adalah seorang nabi bernama Yunus bin Amitai yang\nberasal dari Israel Utara dan hidup pada jaman pemerintahan Yerobeam bin Yoas\n(2 Raja 14:23-25).Satu hari dipanggil TUHAN untuk pergi ke Niniwe untuk\nmenyerukan kepada bangsa Asyur itu. Namun rasa nasionalisme sang nabi\nmenghalanginya untuk mematuhi perintah Tuhan itu . Sang nabi lebih mengingini\nbangsanya, kerajaan Israel Utara tetap aman,terbebas dari kemungkinan diganggu\noleh kerjaan yang berpusat di Niniwe itu. Tentu saja ia tahu sikap umum yang\nkeras dan kejam dari kerajaan-kerajaan di Timur itu memperlakuan bangsa\njajahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagi seorang warga kerajaan Israek Utara, ia\nberjuang untuk melindungi bangsa dan kerajaannya . Nabi Yunus sangat kenal\nTUHAN yang memanggilnya itu, TUHAN adalah Allah yang pengasih dan penyayang,\nyang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena\nmalapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2).<\/p>\n\n\n\n<p>Kapal menuju Tarsis yang terletak di barat.\nTarsis yang dimaksud bukanlah Tarsis yang berada di Siria,melainkan Tarsis (\nTartessus) di Spanyol. Ia beyul-betul menjauh dari Niniwe dan sekaligus\nberusaha menjauh dari hadapan TUHAN (1:3)<\/p>\n\n\n\n<p>Sikap itu adalah pengejawatan dari jiwa\nnasionalisnya. Pertimbangannnya tentulah penduduk Niniwe yang kejahatannya\nsudah TUHAN ketahui itu lebih tepat untuk dihukum dan hancur karena murka\nTUHAN. Ia tidak rela penduduk Niniwe itu mendengar berita pengasihan Tuhan,Yang\nmembuka kemungkinan bagi mereka untuk sadar dan bertobat. Bila mereka bertobat\nTUHAN yang pengasih dan penyayang itu pasti akan mengampuni mereka. Kalau\nmereka diampuni TUHAN, tentu Niniwe akan bertambah jaya. Kejayaan kerajaan itu\nsangat berpotensi untuk melakukan expansi , itulah kekuatiran nabi Yusnus.\nKerajaannya,Israel Utara akan dilanda oleh expansi Ayur dan ditaklukan serta\ndiperlakukan dengan keras.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasa nasionalisme Yunus ini membuatnya siap untuk\npasang badan melindungi bangsa dan kerajaannya. Ia berani melwan perintah TUHAN\ndan menjaduh dari Niniwe. Ia sangat mengharapkan musuh potensial itu hancur dan\nlenyap. Resiko pun ia ambil demi melindungi bangsa dan negaranya. Sikap\nnasionalisme yang picik ini telah membuatnya buta terhadap rencana penyelamatan\nbangsa &#8211; bangsa . Ia ibangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bencana yang Membawa Berkat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seperti keyakinan pemazmur (139 ) bahwa manusia\ntidak bisa kabur tanpa diketahui TUHAN; manusia tidak bisa bersembunyi dai\nhadapan TUHAN. Karena TUHAN adalah Maha Tahu dan Maha Hadir.<\/p>\n\n\n\n<p>Bebal kapal membuang muatan kapal demi nyawa\nmereka. Rupanya mereka terdiri atas berbagai bangsa; maka mereka berseru\nkerpada sesembahan-sesembahan mereka masing-masing(1:5) namun juga sia-sia.\nDalam kepanikannya nahkoda kapal menemui Yunus yang tidur di ruang kapal paling\nbawah. Yunus yang siap mati demi bangsanya , tidak peduli akan nasib kapalnya; ia\npun bisa tidur nyenyak (1:5). Yunus kemudian didesak oleh nahkoda kapal untuk\nberseru kepada Allahnya demi keselamatan segenap penumpang kapal itu (1:6)<\/p>\n\n\n\n<p>Saat diundi untuk mengetahui penyebab malapetaka\niyu, Yunuslah yang undi. Yunus pun memperkenalkan dirinya kepada para awak\nkapal bahwa dirinya adalah orang ibrani yang takut akan TUHAN,pemilik dan\npencipta langit ,laut dan daratan (1:9).Setelah badai itu melanda mereka karena\nYunus pula. Segenap awak kapal justru sangat ketakutan dan tidak berani mencelakai\nYunus;mereka berupaya mendaratkan kapalnya namun kali ini pun tetap\nsia-sia(1:13). Karena semua upaya penyelamatan yang mereka lakukan tidak\nmendatangkan hasil, setelah meminta pengampunan kepada TUHAN yang diperkenalkan\nYunus,mereka melemparkan Yunus ke dalam laut yang menggelora itu. Keajaiban pun\nterjadi badai reda seketika . Bencana seketika berlalu. Dampaknya adalah para\nawak kapal memberi diri untuk percaya kepada TUHAN yang disembah Yunus(1:16).<\/p>\n\n\n\n<p>Nasionalisme Yunus telah menjauhkannya dari kota\nyang seharusnya ia datangi untuk mengabarkan kabar baik bagi bagi penduduk kota\nitu; namun kabar baik itu terlebih dahulu dinikmati para awak kapal yang\nberasal dari berbagai bangsa itu. Dari sudut padang spiritual, bencana badai\nlaut Tengah itu telah berubah menjadi berkat bagi para awak kapal itu. Mereka\nmengenal TUHAN,sang penyelamat yang datang di balik badai itu. Sekalipun dalam\nposisi tidak taat, Yunus sebagai hamba TUHAN tetap bisa menjafi pembawa berkat.\nKita pun belajar bahwa TUHAN memang peduli kepada bangsa-bangsa lain.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bencana Yang Memperbaharui<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Yunus, sang nasionalis tulen itu harus mengalami\npengalaman antara hidup dan mati di dalam perut ikan selama tiga hari tiga\nmalam (1:17)<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bentuk mazmur ( Pasal 2 ),ia melukiskan\npengalaman yang menyesakan itu sebagai berada di dunia orang mati,Sheol (2:2).\nSaya meyakini bahwa pengalaman yang dialami Yunus ini adalah pengalaman nyata\nbukan sekedar fiksi ataupun alegori. Tuhan Yesuspun memakai pengalaman Yunus\nini sebagai analogi untuk pengalamannya di kubur setelah kematiannya di atas\nkayu salib ( Mat 12:39-41)<\/p>\n\n\n\n<p>Ungkapan doa yang disampaikan Yunus saat berada\ndi dalam perut ikan kepada TUHAN adalah ungkapan pertobatan atas\npemerontakannya. Tanpa pertobatan tidak ada harapan untuknya bisa lepas dari dunia\norang mati itu. Ia terperangkap dalam perut ikan itu, terbalut oleh rumput\nlaut, dalam kuyup. Gelap pula dan tidak melihat jalan keluar dari perut ikan\nitu. Doa pertobatan adalah harapan satu-satunya bagi Yunus yang bisa ia\nlakukan. Dalam kegawatan bencana itu ia tidak kehilangan keyakinannya akan\nTUHAN yang pengasih dan penyayang yang pandang sabar dan setia itu. Yunus\nberseru , Yunus bertobat dan doanya itu bersambut.<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan kembalikan Yunus ke dunia orang hidup.\nPengalaman yang menyesakan ini telah membawanya untuik berserah kepada TUHAN\nyang memanggilnya. Pembaruan hatinya pun terjadi; sangat mungkin ia bernazar\nuntuk tidak lagi melarikan diri dari panggilan Tuhan. Yunus pun siap untuk\npergi ke NIniwe (2:9). Inilah pengalaman puncak Yunus dengan TUHAN. Pengalaman\nitu telah memaksanya untuk menanti perintah TUHAN,pergi ke Niniwie.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>NASIONALISME YANG TIDAK SIRNA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Yunus diberi peluang kedua untuk menjadi penyalur\nberkat bagi penduduk Niniwie(3:1,2). Secara jasmaniah Yunus melangkah memenuhi\nperintah TUHAN, namun secara batin ia masih dipenuhi\npergumulan,ketidakrelaannya melihat Niniwe bertobat masih kuat.Kotbahnya pun\ndisampaikan dengan tanpa mengharapkan terjadi pertobatan dari para\npendengarnya. Bahkan kotbahnya itu bisa digolongkan sebagi berita penghukuman :\n\u201c Empat puluh hari lagi,maka Niniwe akan ditunggangbalikan .\u201d(3:4).<\/p>\n\n\n\n<p>Namun diluar dugaan Yunus ,penduduk Niniwe\nmemeberi respon positif,mereka bertobat . Penduduk Niniwe percaya kepada Allah\nyang disampaikan oleh Yunus. Bahkan Raja ( Mungki Raja Ashurdan III, 773-755)\nmengelurakan dekrit pertobatan dan perkabungan nasional, puasa pun harus\ndilakukan bukan hanya untuk manusia melainkan hewan peliharaan juga. Hal itu\ntermasuk mengenakan kain kabung sebagi wujud nyata dari pertiobatan mereka\n(3,7,8). Rupanya hati mereka sudaj disiapkan. Pada tahun 765 dan 759 SK wabah\nmelanda Niniwe dan pada tahun 763 SK terjadi gerhana matahari (Wilinson dan Boa\n1983-257). Maka saat Yunus menyampaikan akan datangnya becana dalam 40\nhari;mereka meresponnya dengan serius. Sangat mungkin mereka masih trauma\ndengan wabah-wabah sebelumnya dan gerhana matahari yang dalam masyarakat\ntradisional sampai hari ini pun masih ditafsirkan sebagai penanda bencana.\nAdalah sangat masuk akal mereka bertobat , setelah mendengar berita penghukuman\nyang akan datang itu. Allah yang dikenal Yunus sebagai Allah yang pengasih dan\npenyanyang serta panjang sabar dan setia itu membatalkan rancangan bencananya\nuntuk Niniwe(3:10).<\/p>\n\n\n\n<p>Pemberita kabar baik mana yang tidak bersukacita\nmenyaksikan beritanya mendapat tanggapan positif, apalagi segenap penduduk kota\nbesar itu bertobat? Mungkin hanya Yunus yang tidak bersukacita walau beritanya\nbersambut tidak bertobat. Ia lebih mengharapkan penduduk Niniwe dilanda\nbencana. Jiwa nasionalismenya tetap berjuang untuk melindungi negaranya. Dari\nancaman negara yang berpotensi jadi musuh dan penakluknya itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Jiwa nasionalisme yang mencintai dan sangat loyal\nterhadap bangsanya adalah sikap yang patut dipuji namun bila sikap terserbut\nmenjadi penutup aliran kasih TUHAN, orang tersebut menjadi picik.<\/p>\n\n\n\n<p>Loyalitas tertinggi bagi seorang hamba TUHAN\nadalah TUHAN-nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal keresahannya serta menimbang keamanan bagi\nbangsanya adalah hal yang manusiawi bahkan dalam konteks tertentu menjadi hal\nyang wajib,namun loyalitas tertingginya haruslah kepada TUHAN.<\/p>\n\n\n\n<p>Batalnya bencana atas Niniwe itu sangat\nmengesalkan hati Yunus. Yunus pun berani ungkapkan kemarahannya kepada TUHAN\nsekali lagi ia pasang badan dengan memberi tantangan kepada TUHAN.Seakan Yunus\nberkata:\u201dPilih aku atau Niniwe?\u201d Kalau TUHAN selamatkan Niniwe , cabutlah\nnyawaku\u201d (4:3). Tuhan hanya mengajak Yunus untuk menimbang.\u201d Layakkah engkau\nmarah.\u201d (4:4)<\/p>\n\n\n\n<p>Yunus masih berharap TUHAN mendengar kegundahan\nhatiya, Ia pergi ke Timur kota itu, rupanya dari ketinggian lokasi itu ia membangun\npondok kecil. Ia duduk di sana menanti apa yang akan terjadi atas kota besar\nitu (4:5).Apa yang diharapkan Yunus? Bisa jadi Yunus mengharpkan hujan belerang\ndan api dari langit turun menghancurkan Niniwe, seperti saat sodom dan Gomora\ndimusnahkan TUHAN ( kej 19:24,25)<\/p>\n\n\n\n<p>TUHAN membesarkan hati Yunus dengan menumbuhkan\nsebatang pohon jarak sebagai peneduh. Yunus sangat senang dengan tumbuhnya\njarak peneduh itu. Namun keesokan harinya saat pohon jarak itu layu, serta\nangin panas menerpa Yunus. Yunus pun tidak berdaya gagal; ia pun lebih memilih\nmati. Bahlan saat Allah mempertanyakan kemarahannya itu, ia tegas nyatakan\nbahwa kematian adalah pilihannya karena TUHAN tidak merestui perjuangannya\nitu(4:8,9)<\/p>\n\n\n\n<p>Allah memulai memakai pohon jarak sebagai\nperbandingan dnegan penduduk Niniwe. Allah mulai mengajak Yunus untuk membuka\nmatanya, agar ia terbuka menyaksikan kenyatan bahwa penduduk Niniwe berseru\nkepada Allah dan bertobat. Hati Yunus diajaknya untuk terbuka dan menaruh belas\nkasihan kepada penduduk yang terbilang banyak. Allah menyatakan alasan kasihnya\nkepada penduduk Niniwe yang dinyatakan bahwa ada 120.000 orang yang tidak tahu\nmembedakan tangan kanana dan tangan kiri . Ha itu saya menafsirkannya sebagi\npara balita. Bisa jadi kota itu berpenduduk minimal 500.000 orang. Penduduk\nsebesar itu dengan pimpinan rajanya telah melakukan hari perkabungan dan\nmemohon belas kasih Allah. Yunus pun ditantang untuk meluaskan cakrawala\npadangnya, Tidak cukup hanya mengasihi bangsanya sendiri; kasihi juga bagsa\nNiniwe,apalagi Niniwe saat itu menyatakan keseriusan pertobatan mereka. Yunus\nditantang untuk tidak lagi bersikap picik karena nasionalisme sempitnya. Yunus\nharus membuka mata ,membuka hati dan meluaskan cakrawalanya.<\/p>\n\n\n\n<p>TUHAN PEDULU BANGSA-BANGSA LAIN JUGA<\/p>\n\n\n\n<p>Bukanlah kali ini saja TUHAN menunjukan\nkepeduliannya terhadap bangsa-bangsa buka Israel. Bhakan janji pemulihan yang\nditerima leluhur manusia sesaat setelah kejatuhan mereka ke dalam dosa,yaitu\njanji kelahiran seorang keturunan perempuan( Kej 3:15 ) bersifat universal.Janji\nyang di kenal sebagai protoevangelium itu disebut oleh George Pieters sebagai\nbintang fajar di tengah gelapnya kehidupan manusia, adalah janji yang bersifat\nuniversal (1981:85). Bersifat universal sebab jani itu disampaikan berkaitan\ndengan leluhur segenap umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepedulian Allah kepada segenap manusia\ndipertegas saat pemanggilian Abram ( kej 12:1-3). Janji yang saya sebut sebagai\nPraamanat agung ( Tenibemas 2011,13) ini jelas menyatakan kepedulian Allah\nkepada segenap manusia . Apalagi pasal sepuluh dari kitab kejadian itu\nmenderetkan daftar bangsa-bangsa yang menjadi cikal bakal penyebaran\nbangsa-bangsa hingga saat ini. Hal itu menunjukan bahwa Alla tidak pernah tidak\nmempedulikan bangsa-bangsa ini . Adalah sebenarnya Allah tidak pernah tidak\npeduli terhadap bangsa-bangsa di dunia ini. Pemilihan Abram yang kemudian\nmenjadi Abraham yang melahirkan bangsa Israel tidaklah meniadakan kepedulian\nAllah kepada bangsa-bangsa bukan Israel. Adalah tepat yang ditulis oleh Verkuyl\nbahwa israel adalah Pars pro toto, minoritas yang dipanggil untuk melayani\nmayoritas ( 1978,92).<\/p>\n\n\n\n<p>Kepedulian Allah terhadap bangsa-bangsa selain\nIsrael bisa terus kita telusuri sepanjang sejarah kudus yang dicatat dalam\nperjanjian lama. Misalnya secara sangat ringkas seperti halnya seberkas cahaya\nyang melintas, dari kitab-kitab Sejarah misalnya dari kitab I Tawarikh 16 yang\nmengajak untuk memperkenalkan TUHAN kepada bangsa-bangsa (ay 8). Segenap bumi\ndiajaknya untuk memuji TUHAN ( ay 23 ) dan segala bangsa harus diberi peluang\nmendengar tentang kemuliaan dan perbuatan TUHAN (ay 24 ). Segala bangsa harus\ntahu bahwa Tuhan itu Raja (ay31).<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kesimpulan kitab Syair , saya pilih misalnya\ndari kitab Mazmur. Mazmur 67 berisi nyanyian pengharapan agar segala bangsa\nmengenal keselamatan dari Allah (ay 3 ). Segala bangsa bahkan suku bangsa\ndiharapkan bersyukur kepada Allah (ay 4-6). Dalam Mazmur 87 dikatakan bahwa\nTUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa (ay 6). Betapa TUHAN peduli\nkepada segala bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kitab para Nabi, saya ambil contoh dari\nkitab Nabi Yesaya.Pada pasal ke 11 saat menubuatkan tentang Sang Raja Damai\nyang berasal dari pangkal Isai, Yesaya menulis Raja Damai itu juga bagi\nbangsa-bangsa (ay 10). Dalam pasal 25 kitab Nabi Yesaya menuliskan tentang\nperjamuan bagi bangsa-bangsa dan akan terakatnya kain kabung yang menudungi\nbangsa-bangsa itu (ay 6,7). Pasal 49 terutama ayat 6 jelas peran pars pro toto\nIsrael ditonjolkan. Israel menjadi ternag bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan\nyang dari pada TUHAN itu sampai ke ujung bumi. Dalam pasal 55 ada ajakan kepada\nbangsa-bangsa untuk ikut menikmati keselamatan dari TUHAN terutama ayat 4,5\ndari pasal ini. Inilah gambaran ringkas Pars Pro totoI itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>SINDROM YUNUS<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>TUHAN memakai kitab suci Nabi YUNUS untuk membuka\nmata, membuka hati dan meluaskan cakrawala bangsa Israel yang kurang bahkan\ntidak peduli akan bangsa-bangsa lain. Dalam hal ini pandanganyya jelas\ntertampilkan pada sikap Yunus. Sedangkan Allah tidak pernah tidak peduli kepada\nbangsa-bangsa lain. TUHAN adalah TUHAN untuk segenap manusia dan bangsa Israel\nsebagi turunan dari Abraham seharusnya menjadi fungsi Pars Pro toto itu;namun\nmereka telaj gagal. Verkuly menyatakan bahwa kitab suci Yunus sangat kuat\nmelawan sifat etnosenrisme yang menyabot rencana universal Allah(1978,97). Hal\nserupa bisa terjadi juga kepada gereja masa kini yang dengan berbagai alasam\ntidak lagi menjalankan Amanat Agung kepada segala bangsa; sentimen kekelompokam\nbisa menjadi salah satu penghalangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Konteks yang lebih sempit, sayang mengajak\nanda untuk bercermin dari pengalaman YUNUS di atas, Adalah wajar bahkan tidak\nbisa tidak sebagai orang percaya kita mengasihi Gereja TUHAN. Lebih konkrit\nlagi gereja-gereja yang didalamya kita hadir dan menjadi bagian yang tidak\nterpisahkan . Bisa jadi TUHAN memberi kepercayaan kepada sebagian dari kita\nuntuk menggembalakan satu gereja dalam satu denominasi. Yang lain merintis dan\nmengembangkan satu gereja lokal. Atau mungkim berperan sebagai pendukung dari\nkehadiran gerja-gereja itu dalam konteks geografis tertentu. Rasa memiliki dan\nrasa kesatuan keumatan pun bisa jadi hadir secara kuat dalam diri kita .\nKepedulian dan mengasihi saudara seiman adalah suatu kewajaran bahkan\nkeharusan(1 Yoh 4:7,11,21).<\/p>\n\n\n\n<p>Saat mendengar bahwa sekelompok orang kristen teraniya\nadalah wajar bila turut prihatin,sedih ataupun kecewa . Bisa jadi pula\nmarah,bahkan ada juga yang mengutuki atau berdoa agar TUHAN membalas kepada\npara penganiaya saudara-saudara kita itu, saat tempat ibadahnya dirusak ,\ndibongkar apalagi dibakar habis, hati pun pedih, marah seraya bertanya-tanya\nmengapa pemerintah membiarkannya?<\/p>\n\n\n\n<p>Adalah kenyataan bahwa negara kita sudah ribuan\ntempat ibadah kristen dengan beragam alasan dan sebab yang\nditutup,dirusak,bahkan dibakar. Adalah kenyataan bahwa alasan dan sebab\npenutupan atau perusakan itu tidak dikenakan kepada golongan keyakinan lain.\nAdalah kenyataan pula bahwa sikap permusuhan kebencian dan penganiyaan terhadap\norang percaya kepada Kristus ini terjadi di sangat banyak tempat di dunia ini.\nSekalipun dalam pengelompokan keagamaan,penganut Kristen itu terbilang\nmayoritas yaitu 33% dari total penduduk dunia, namun kenyataannya orang-orang\nKristen banyak kali harus mengalami penganiyaan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Awal tahun 2015 lalu Open Doors,satu organisasi\ngerejawi yang memberi perhatian atas penderitaan dan memberi bantuan terhadap\norang kristen yang menderita aniaya di dunia ini menerbitkan 2016 Hanbook of\nPrayer. Dalam buku kecil itu didaftarkan 50 negara di dunia yang tergolong pada\nnegara tempat ibadahnya kepada kristus. Yang bertengger pada nomor satu dari\ndaftar negara-negara itu adalah negara berpaham komunisme yaitu Kore Utara.\nNamun mayoritas penduduknya Musilim.<\/p>\n\n\n\n<p>Bercemin dari pengalaman Yunus adalah munhkin\nbanyak diantara orang Kristen yang memiliki rasa tidak suka ,marah, atau\nmembenci kepada kelompok yang memushi atau mempersulit bahkan mengainiaya orang\nKristen itu. Dalam ketidakberdayaannya bisa juga mengambil langkah tiarap,\nTidak jarang pula yang tidak peduli kepada kelompok bukan kristen itu.Kesaksian\nKristen pun menjadi pudar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sindrom \u201cnasionalisme\u201d Yunus bisa jadi merasuki\nbanyak dari kita dan kita justru cenderung seperti Yunus untuk\u201dberjuang\u201d\nmencari perlindungan bagi kaum Kristen dengan mengarapkan kelompok yang\nmemusuhi,apalagi menganiaya kaum Kristen di pukul TUHAN seriing dilupakan bahwa\nTUHAN Yesus dalam kotbahnya di atas bukit sebagaimana dilaporkan oleh Matius,\ndi antaranya mengajak pendengarnya untuk membuka hati mengasihi orang-orang\nyang memusuhinya, bahkan mendoakan orang yang menganiaya(mat 5:43,44). Sikap\nyang diajarkan Tuhan Yesus itu bila dilaksanakan akan menjadi pembeda antara\norang Kristen dengan kelompok lain ( Mat 5:45-47).<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak kasus pula saat orang kristen memberi\nbantuan atau melalukan pelayanan sosial kepada tetangga sekitarnya,niatnya\nadalah mengharapkan perlindungan kepada diri atau gerejanya. Dasar dari sikap\nini adalah rasa takut akan ajdi sasaran permusuhan atau perusakan terhadap\nharta milik orang kristen. Karena ketidakberdayaan untuk melindungi diri maka\nberharap dengan memberi bantuan, bisa menerima perlindungan dari para penerima\nbantuan itu. Belum tentu sikap atau tindakan seperti ini terbilang bantuan itu.\nBelum tentu sikap atau tindakan seperti ini terbilang salah. Namun motivasi\nyang lebih baik saat lita membagikan bantuan sosial itu adalah segolongan\ndengan mereka yang membenci kaum Kristen. Bukankah Tuhan Yesus pun mengajarkan\nuntuk mengasihi mereka yang memusuhi ?<\/p>\n\n\n\n<p>Berkaitan dengan Amanat Agung,gereja Kristen\nharus menaatinya,Karena TUHAN tidak menghendaki seorangpun binasa(2 Pet 3:9).\nTuhan Yesus telah menyampaikan amanat itu kepada para pelaksana amanat-Nya itu.\nAmanat merupakan berita tentang pertobatam dan pengampunan dosa ini harus\ndiberitakan kepada segala bangsa (Luk 24:47). Tentu termasuk kepada kaum\nsebagiannya memusuhi orang percaya ini, Kaum muslimin pun jangan ditimbang\nsebagai musuh,walau banyak dari mereka yang memusuhi,mempersulit bahkan\nmenganiaya kaum Kristen . Sudah lebih dari seribu gedung gereja dan tempat\nibadah di Nusantara ini yang mereka tutup, rusak bahkan dibakarnya sejak dekade\nterakhir abad lalu.Namun mereka tetap patut dikasihi dan berhak pula untuk\nmendengar kabar baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Adalah tantangan bagi kita untuk menguji\ndiri,apakah kita telah dihinggapi sindrom \u201cnasionalisme\u201d Yunus? Berapa parah?\nTUHAN telah mengajak Yunus untuk menghayati Kasih-Nya kepada penduduk Niniwie\nitu dengan menantangnya untuk membuka mata , membuka hati dan meluaskan\ncakrawala. Bisa jadi kita pun harus menghayati hal serupa.<\/p>\n\n\n\n<p>Daftar Pustaka:<br>Open Door.2015.2015 Handbook Of Prayer.Malaysia: Odmal Services Berhard.<br>Peter,George W. 1981.A bilbical Theology Of Mission,Chicago: The Moody Bible Instute<br>Tenibemas,Purnawan.2011.Misi Yang Membumi.Bandung Sekolah Alkitab Tiranus<br>Verkuly.J. 1978.Contemporary Missiology,An Introduction. Grand Rapids,Michigan:William B.Erdmans Publishing Compani.<br>Willinson,Bruce dan Kenneth Boa,1983.Talk Thru the Bible.Nasville,Camden.Kansas<br>City:Thomas Melson Publishers<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Purnawan Tenibemas, Ph.DSekolah Tinggi Alkitab Tiranus Abstrak. Merupakan suatu kewajaran ketika seseorang merasa nyaman berada di tengah-tengah kelompoknya sendiri. Bahkan masih terbilang wajar bila orang itu bangga dan membela kelompoknya. Namun, sentimen kelompok yang berlebihan dapat menghambat pelayanan lintas budaya. Artikel ini menampilkan contoh dari kisah hidup nabi yusnus yang diutus Allah ke Niniwe,Asyur. &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/buka-mata-buka-hati-luaskan-cakrawala\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;BUKA MATA , BUKA HATI, LUASKAN CAKRAWALA&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[24,23],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1986"}],"collection":[{"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1986"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1986\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1987,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1986\/revisions\/1987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1986"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1986"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tiranus.ac.id\/wp7\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1986"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}